Tuesday, February 12, 2008

KUNTUM NURSERY TAJUR BOGOR

Siang tadi aku ke “Kuntum Nursery” yang beralamat di jalan raya Tajur no 291 Bogor, kira-kira satu jam dari Jakarta. Tempat ini merupakan tempat penjualan bibit tanaman hias, juga buah dan sayuran, juga benih beberapa jenis ikan. Tempatnya ga jauh dari sentra tas TAJUR, bogor.

Tempatnya asik banget. Taman dengan berbagai macam bibit tanaman, kolam ikan , serta restaurant yang mengelilingi kolam pemancingan.
Dzaki asik berlarian di sekitar kolam dan kebun, sementara kami bergantian menjaga dan makan. Pilihan menunya cukup beragam. Ada ibu ibu yang menyediakan prasmanan masakan Sunda . Tinggal duduk, dan bebas ngambil sendiri. Pepes pedanya sungguh sedap, juga pepes jamurnya. Taklupa ada semur jengkol (cihui hehe). Harga di prasmanan ini cukup terjangkau. Aku juga mencoba menu di cafenya , yaitu ayam kalasan. Lumayan enak. Namun menu di café lebih mahal daripada makanan Sunda yang prasmanan. Selain itu ada pilihan di kedai lain yaitu bakwan malang, asinan dan lain lain.

Siang itu tampak rombongan bapak bapak petani yang studi banding ke perkebunan itu. Jadi suasana di resto cukup ramai.
Setelah itu aku belanja keperluan kebun, pot disini lumayan murah, dari harga 500 an sampai sekitar 30 ribuan. Media tanam juga lebih murah daripada di Jakarta (at least di Kelapa Gading). Media sekarung cuma Rp. 9000,- (di Kelapa Gading Rp. 12.000,-) . Aku juga beli benih beberapa jenis sayuran untuk kucoba tanam di rumah.

Tidak lupa belanja sayur hasil perkebunan tersebut, organic pastinya. Cukup murah. wortel organic satu pak ukuran 250 gr Rp. 4000,- (hamper sama dgn harga wortel di pasar), Sawi Rp. 5000,-, labu parang seperempat biji Rp. 3000,- (MURAH BANGEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEET), Hihi bangetnya panjang soalnya labu parang kesukaan Dzaki di hypermall seperempat paling nggak Rp. 6000,-. Wortel yang kubeli benar benar segar warnanya, dan crispy.

Aku juga beli bunga. Disini harga tanaman bunga bervariasi mulai dari yang Rp. 3000,- an sampai ratusan ribu. Aku beli dua macam bunga (aku ga tahu namanya hihi), yang murah aja buat ditanam di depan rumah. Puas banget dech berkunjung kesini. Next time aku pasti kesini lagi.


Dzaki di Kuntum Nursery

Kolam ikan

Sudut di kolam


Bangunan Resto


Kolam pancing

Dzaki di resto

Ayam Kalasan

Peda dan pepes jamur

Semur Jengkol







KISAH BUNDA

Cerita ini aku dapat dari sebuah blog ibu2. Untuk mengingatkan aku....

MANDIKAN AKU, BUNDA

Sebagian wanita menganggap tugasnya lebih sebagai manajer di rumahnya tanpa perlu dipusingkan urusan dapur dan merawat anak yang lebih pantas dilakukan oleh para bawahan, alias pembantu atau baby-sitter. Peran sosial dan aktualisasi diri menjadi lebih utama.Di sisi lain, tidak sedikit wanita yang tetap "teguh" dan bangga dengan kesibukan seputar urusan dapur. Mereka cukup puas dengan imbalan surga untuk jerih payahnya membenamkan muka di asap "sauna" Mazola (minyakgoreng) dan berparfumkan aroma popok bayi.Saya tidak hendak membahas kekurangan dan kelebihan kedua sisi ini.Seperti saya tulis dimuka, sudah banyak para pemuka agama yang memberikan arahan.

Saya hanya ingin bertutur tentang seorang sahabat saya . Sebut saja Rani namanya.Semasa kuliah ia tergolong berotak cemerlang dan memiki idealisme yang tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya sampai universitas kami mengirim dia untuk mempelajari hukum Internasional di Universitas Ultrecht, negrinya bunga tulip, beruntung rani terus melangkah. Sementara saya, lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk beluk hukum dan perundangan.

Beruntung pula, rani mendapat pendampin yang "setara" dengan dirinya, sama-sama berprestasi , meski berbeda profesi.Alifya, buah cinta mereka lahir ketika Rani baru saja diangkat sebagai staf Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD.b Konon nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah "alif" dan huruf terakhir "ya", jadilah nama yang enak didengar : Alifya. Tentunya filosofi yang mendasari nama ini seindah namanya pula.Ketika Alif, panggilan untuk putranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila saja. Frekuensi terbang dari satu kota ke kota yang lain makin meninggi. Saya pernah bertanya, "Tidaklah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal?". Dengan sigap Rani menjawab: "Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya . Everythink is ok."Dan itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan.

Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian. Kakek neneknya selalu memompakan kebanggan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu-bapaknya. "Contohlah ayah bunda Alif kalau besar nanti". Begitu selalu nenek Alif , bertutur disela2 dongeng menjelang tidurnya. Tidak salah memang. Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya.Ketika alif berumur 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik. Waktu itu Ia dan suaminya menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif.Lagi-lagi bocah kecil ini, "dapat memahami" orang tuanya.

Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua orang tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Kisah Rani, Alif selalu menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtua sibuk , alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam hati kecil saya menginginkan anak seperti alif.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa alif menolak dimandikan baby-sitternya. "Alif ingin bunda mandikan". Ujarnya. Karuan saja Rani yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar. Tak urung suaminya turut membujuk agar alif mau mandi dengan tante Mien, baby sitternya. Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan, "Bunda, mandikan Alif" begitu setiap pagi. Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena alif sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah jadinya agak minta perhatian.

Suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter," Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency." Setengah terbang, saya pun ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana lain. Alif , si malaikat kecil keburu dipanggil pemiliknya.Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor barunya, shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan anaknya. Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. "Ini bunda, Lif. Bunda mandikan Alif. Ucapnya lirih, namun teramat pedih.Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata, "ini sudah takdir, iya kan? Aku di sebelahnya ataupun diseberang lautan, kalau sudah saatnya, dia pergi juga kan??". Saya diam saja mendengarkan. "Ini konsekuensi dari sebuah pilihan." Lanjutnya lagi.

Hening sejenak..............Angin senja berbaur aroma kamboja. Tiba-tiba Rani tertunduk. Serunya kemudian, " Bangunlah lif, bunda mau mandikan alif, beri kesempatan bunda sekali lagi saja, lif". Rintihan itu begitu menyayat. Detik berikutnya ...ia bersimpuh sambil mengais-ngais tanah.

Source : http://salsabila17.multiply.com/journal

Makan apa donk (Organic,Transgenik)

Alkisah, seorang rekan memberikan tempe hasil buatan di laboratoriumnya di Chiba Uni. Entah apakah dia ini memang desperade kangen tempe, atau memang bagian dari penelitian untuk disertasinya, atau mau membuka bisnis tempe di Jepang. Rasa tempenya………………jauuuh dari tempe di pasar Indo (hehe). Tapi demi menyenangkan hati rekan, aku dan teman teman dengan senang hati mencicip tempe buatnya.

Tempe siapa sih orang Indo yg ga kenal. Kenapa tempe, krn sumber protein nabati yang sangat terjangkau. Tapi sekarang sangat tidak mudah terjangkau karena harga kedelai naik drastic.

Aku ga membahas harga naiknya tempe, cuman ingin cerita hasil ngobrol dengan temanku yang pengusaha pertanian. Dia menjelaskan bahwa kebanyakan kedelai konsumsi kita adalah import. Dan kebanyakan kedelai import adalah hasil Transgenik. Duuh opo itu transgenic. Bahasa jawane kata rekanku, adalah metode silangan benih sehingga menghasilkan hasil unggul. Kayak di filem2 science itu lho. Mutan.

Panjang lebar dia menjelentrehkan misalnya padi yg tahan hama dicampur padi yang wangi, hasile padi yg wangi dan ga disukai hama. Memang produksi meningkat, tanaman tahan serangan cuaca, hama. Namun transgenic menyisakan masalah. Ya itu Mutan itu tadi, misale gen yg racun (anti hama, anti penyakit) jika dikonsumsi oleh manusia. Amankah? Menurut dia ga aman dlm jangka panjang. Lha wong tikus aja ga doyan kok mau dikasih manusia, gitu bahasane. Juga menurut beberapa artikel yg kubaca sekilas.Duuuh gimana tahunya transgenic dan enggak. Sebagian produk memang dikasih label trasgenik, sebagian besar di pasaran Indo enggak.Jadi kecap, saus tomat, susu bayi pun ga tentu bebas dr transgenic. Byuuuh.

Trus makan apa donk. Sayur segar?
Ini juga belum tentu bebas dari pestisida. Belum beras yg disemprot pengawet, pemutih.

Kalau gitu aku tanam dewe bibit sayurku, ga pake pestisida.
Temanku masih tanya, bibite transgenic bukan?, dia bilang organic belum tentu bebas dari transgenik. GUBRAK. Gimana tahunya dunk, ini juga bibit dr pasar belanjaan sayur. Terus AKU MAKAN OPO DONK.

Aku ingat beberapa tahun yang lampau, aku sekeluarga mengunjungi wismanya ibu Gedong (almarhum) di Candi Dasa. Waktu itu dia mengajak kami berkeliling, dan menunjukkan sawahnya, kebun sayurnya, dan system pengairan di perkebunannya. Beliau menjelaskan bahwa bersama para “santrinya” mengusahakan secara mandiri makanan yang dikonsumsi sehari2 dari hasil sawah dan kebun, yang bebas polusi, pestisida dan segala yg ga alami.
Woow, kalau aku hidup di desa bisa juga tuh ditiru. Di kota besar kayak Jakarta ini paling yg bisa diusahakan adalah memilih bahan yg organic (dan bukan transgenik kalau masih bisa…..).Kalau suamiku orangnya ga mau repot. Asal sehat, ga pengawet, ga zat pewarna buat dia its OK. Katanya transgenic adalah solusi untuk mengatasi kurang pangan dunia.

Sedangkan kata sebuah artikel, transgenic akan menyebabkan bencana kelaparan di masa depan.Embuh yang benar yang mana.
Tadinya aku sendiri cuek (dan tidak tahu). Maklum, “penganut suku perut gendut makan apa saja pokoke enak”. Tapi karena punya anak dgn mslh perkembangan , jadi lebih memperhatikan masalah beginian.

(ibu yang mumet)

Dzaki in action

Here are some pictures of Dzaki. Enjoy !!
Pria sejati

Terjun bebas

Main gerimis


Siap terbang
















GO GREEN

Cangkul cangkul cangkul yang dalam…..

Hihihi inilah kegiatan “iseng” mama jika Dzaki bobok atau sambil main di teras. Beberapa alasan aku mulai “mencangkul” adalah, ingin mengurangi sampah di rumah dengan memanfaatkannya, ingin sayur yang “organic” bebas pestisida terutama buat si Dzaki, serta ya itu tadi “iseng” ngilangin jenuh.

Sampah dapur berupa dedaunan, potongan sayur dipotong-potong kecil dan kumasukin ke kaleng kompos.

Setiap minggu minimal Dzaki menghabiskan 1 kaleng ukuran besar Pediasure. Kalau dikalikan jadi setahun kira kira ada 42-50 kaleng ukuran besar Pediasure. Biasanya kubuang, sekarang mulai kukumpulkan, bersihkan, lubangi dasarnya dan kujadikan pot untuk menanam sayur.

Setiap hari Dzaki menghabiskan berbelas lembar kertas ukuran A3 untuk menggambar. Tadinya hasil yang bagus aku simpen, sisanya kubuang. Bingung saking banyaknya. Sekarang aku kumpulin, aku satukan jadi lembaran besar. Kalau ada ulangtahun teman Dzaki atau anak saudara aku jadikan kertas pembungkus kado. “ini kertas kadonya hasil karya Dzaki lhoooo”. (Itung itung memamerkan hasil karya Dzaki).

Mengumpulkan benih, akar, umbi dari belanjaan sayur, maupun minta dari petani di dekat rumah, untuk ditanam di pot. Hehe semangkanya sudah mulai berbuah.

Air cucian beras dan daging, biasanya kubuang. Sekarang aku siramkan ke tanaman.

Daun the sisa yang biasa kubuang, aku sebarkan ke pot tanaman, tambahan pupuk gratis.

Tuesday, February 05, 2008

INI OBROLAN IBU- IBU

Hmmmffff makin hari harga harga makin naik ga ketulungan.
Ngga cuma bahan pokok dan bahan makanan mentah saja yang naik. Yang lainpun ikut naik. Misalnya detergen, pewangi, juga kosmetik bayi. Kenapa ya ya non makanan ikutan naik?

Yang lebih aneh, kenapa harga di pasar tradisional malah lebih tinggi daripada di hypermart? Sebagai contoh, Molto Pewangi di pasar dekat rumah harganya Rp. 8.500,- untuk kemasan refill 900 ml. Sedangkan di Carrefor kemarin Rp. 7.500,- untuk kemasan yang sama. Ayam boiler utuh Rp. 16.500,- sedangkan dipasar sekitar Rp. 18.000,-. Padahal pasar tradisional kan notabene lebih becek, template lebih jelek, ga ber AC pula. Pantas di koran rebut rebut tentang matinya pasar tradisional.

Jadi ibu-ibu yang tiap harinya kepasar sebenarnya keluar uang lebih banyak donk drpd yang biasa belanja di Hypermarket. Oklah tentu saja ada ongkos bensin, parkir dan mungkin juga jajan setelah capet belanja di hypermart yang luas. Tapi mungkin sepadan dengan selisih 1000-2500 per item yang dikeluarkan jika belanja di pasar tradisional. Mungkin ada kelebihannya kalau belanja di pasar tradisional, misalnya boleh beli dalam amount yang sedikit (Rp. 500,- dapat cabai rawit dua genggam), tinggal jalan kaki kalau dekat rumah, boleh nawar (tp ga selalu)Anyway, it just my thought, yang kmrn habis belanja ke Carrefor kmdian hari ini belanja ke pasar. Hargane lumayan “NJOMPLANG".

Mengurangi Merkuri

Dari berbagai sumber yang kubaca, disinyalir salah satu penyebab autism adalah kadar merkuri yang berlebihan di dalam tubuh (baca : http://www.depkes.go.id/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=291&Itemid=3) . Logam ini bisa berasal dari polusi, penggunaan merkuri dalam kehidupan misalnya menambal gigi dengan timah atau vaksin yang menggunakan pengawet yang mengandung merkuri. (see: http://puterakembara.org/rm/Alergi5.shtml). Namun demikian masalah merkuri sebagai penyebab ini masih kontroversi, penelitian terbaru dari Canada menemukan bahwa kadar merkuri dalam tubuh anak autis tidak berbeda dengan yang tidak autis (http://www.antara.co.id/arc/2007/5/4/autisme-tidak-disebabkan-oleh-merkuri/)

Untuk mengetahui kadar merkuri dalam tubuh diperlukan test dengan pengambilan sampel darah dan rambut, setelah itu diberikan treatment untuk mengurangi kadar Merkuri dalam tubuh.Ada yang dengan suplemen, ada yang dengan Metode Balur, dan entah metode apa lagi aku belum begitu tahu.

Aku sendiri belum melakukannya. Selain pendapat ini masih kontroversi, sambil menunggu pemeriksaan lanjutan, aku coba untuk mencari cara alternative untuk mengurangi kadar merkuri dari tubuh, toh yang namanya logam apapun jika kadarnya berlebihan tidak akan baik bagi kesehatan (seperti tragedy Minamata). Tembaga, arsenic,aluminium dan lain2 juga disinyalir bisa menyebabkan keracunan dan gangguan saraf. Timbal biasa ada di bensin,cat tembok, baterai,aki. Merkuri juga terkandung di obat tetes mata, thermometer,kosmetik,pengawet gandum. Aluminium banyak pada alat memasak di dapur.

Untuk yang di vaksin dan obat2an, aku skrng lebih hati hati dan menanyakan dulu ke dokter. Untuk yang dalam kehidupan sehari2, alat masak aku hanya pakai stainless steel.

Berikut ini daftar terkumpul dari berbagai sumber mengenai zat dan vitamin yang dapat membantu mengurangi kadar merkuri dalam tubuh.
1. Glutathione
2. N-acetyl-L-cysteine (NAC)
3. L-Methionine
4. MSM (Methylsulfonylmethane)
5. B6 (Pyridoxine)
6. Zinc
7. Vit C
8. B1 (Thiamine)
9. Selenium
10. B5
11. Bawang putih
12. Ginko Biloba
13. B12
14. Omega 3
15. Calcium
16. Aloe Vera
17. Vit E
18. Magnesium
19. Cod Liver Oil
20. Prebiotic
21. Colustrum

Selain itu ada beberapa data lain yang aku dapat dari literature (Terapi makanan anak dengan gangguan autism, Toeti Soenardi, Susirah Soetardjo, PM Pustaka) :
· Hampir 90% anak Autis kekurangan Zinc
· Kekurangan magnesium dan kalsium
· Kekurangan asam lemak Omega 3
· Hampir 90% kelebihan Tembaga

Selanjutnya aku mencoba data bahan makanan sumber dari zat/vitamin diatas. Aku coba untuk kumasukkan ke menu anakku sehari2 , asal halal, yang natural (bukan awetan) dan yang kira2 tidak alergi. Memang datanya belum terlalu lengkap, juga ukuran2nya. Tapi aku usahakan dalam menu sehari2 dan cara memasaknya tepat sehingga zat/vitamin tersebut tidak rusak.

Berikut ini hasil sementara pencarianku :
1. Glutathione.Makanan yang kaya glutahione adalah kubis, brokoli, asparagus, alpukat dan kenari
2. N-acetyl-L-cysteine (NAC) (Belum ketemu)
3. L-Methionine (sda)
4. MSM (Methylsulfonylmethane) (sda)
5. B6 (Pyridoxine) Daging, ikan dan unggas (itik, ayam dll) merupakan sumber utama vitamin B6. Sumber yang lain adalah kentang, beberapa sayuran hijau dan buah berwarna ungu.
6. Zinc. Sumber seng biasanya terdapat dari hewan, seperti daging, ikan, kerang, ayam, dan telur.
7. Vit C Jeruk merupakan sumber utama vitamin C. Brokoli, sayuran berwarna hijau, kol kobis), melon dan strawberi mengandung vitamin C bermutu tinggi.
8. B1 (Thiamine). Daging babi merupakan sumber yang sangat baik untuk thiamin (tapi ga halal), sama seperti ragi, hati, biji bunga matahari, sejumlah padi, biji-bijian, kacang polong, semangka, tiram, oatmeal dan tepung terigu.
9. Selenium . Makanan sumber selenium umumnya adalah yang tinggi kadar proteinnya. Oleh karena itu pangan hewani seperti ikan (tawar, laut), kerang-kerangan, daging ternak, telur, dan ayam merupakan makanan yang kaya kandungan mineral seleniumnya. Sementara pangan nabati kadar seleniumnya rendah kecuali bawang putih, tomat, dan makanan fermentasi seperti tempe, tahu, yoghurt, ragi.
10. B5. banyak terdapat pada ikan, unggas, susu, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran. Hati ampela, telur, brokoli, ikan, ayam, yogurt, jamur, alpukat, kentang manis.
11. Bawang putih
12. Ginko Biloba (aku tanya apoteker di Century Health, katanya untuk balita belum dapat diberikan)
13. B12 . Vitamin B12 hanya ditemukan di dalam daging hewan dan produk-produk hewani. Orang yang hanya makan sayuran (vegetarian) dapat melindungi diri sendiri melawan defisiensi (kekurangan) dengan menambah konsumsi susu, keju dan telur.
14. Omega 3 .Sumber utama omega-3 adalah seafood dan tanaman seperti kacang kedelai, kanola, biji rami.
15. Calcium.Bahan makanan sumber kalsium adalah susu, keju, teri kering, udang kering, ikan sarden, dan kacang kedelai. Sumber kalsium terdapat pada susu, keju, ikan laut, hati, dan kuning telur.
16. Aloe Vera. Ini Lidah buaya.Di supermarket banyak makanan kemasan dari lidah buaya. Ada berupa minuman atau agar agar.
17. Vit E .Vitamin E banyak tersedia dalam sayuran dan minyak biji-bijian, yang dapat ditemukan dalam bentuk margarine, salad dressing, dan shortening. Minyak kacang dan minyak kulit gandum mempunyai konsentrasi vitamin E yang tertinggi. Tingkat selanjutnya adalah minyak jagung dan minyak biji bunga matahari.
18. Magnesium . Bahan makanan sumber magnesium adalah sayuran hijau, serealia, biji-bijian, kacang-kacangan, daging, dan susu. Sumber magnesium terdapat pada kacang-kacangan dan biji-bijian (seperti kenari, almond, kacang mete, kacang tanah), selain itu terdapat juga dalam buah-buahan dan sayuran, seperti bayam, tomat, jeruk, dan kangkung.
19. Cod Liver Oil
20. Prebiotic : Yang tergolong prebiotic adalah oligosakarida dalam ASI, soy bean, oat, beberapa wheat dan barley, serta inulin yang banyak terkandung dalam Articoke
21. Colustrum. Rasanya kok ini ada di ASI ya. Ada akhir akhir ini penawaran susu berkolustrum, tapi aku belum mencari info lebih jauh.

Untuk saat ini susu Dzaki, sesuai anjuran dokter aku kasih Pediasure, kebetulan kandungan didalamnya cukup komplit, termasuk ada prebiotiknya. Dan yang penting, Dzaki tidak alergi dengan Pediasure. Sesekali aku selingi dengan susu kedelai ISOMIL Advance. Untuk Liver Cod Oil aku pakai merek Champs, rasa jeruk, 15 ml/hari sekali.

Ikan laut, kacang kacangan, abon, biscuit bayi, susu sapi Dzaki alergi (yang sudah aku ketahui). Keju untuk merek Craft dan QEJU dia ga gatal (pernah aku coba merek selain ini gatal) dan mentega tawar merek Elle & Wire serta Orchid, jadi sesekali kukasih. Untuk penyedap rasa semacam kaldu blok dan MSG sama sekali tidak kuberikan. Cukup garam dan sesekali sedikit gula fraktosa cair merek Rose Brand (di supermarket besar ada, harga sekitar Rp. 5.600,- untuk 500 ml).Untuk telor aku pilih yang telor ayam kampung, atau telor organic.

Menurut beberapa rekan ada anak2 yang jika makan makanan tertentu terus alergi atau perilaku berubah, susah tidur . Jadi sejauh ini jika Dzaki ga gatal2, mencret, rewel atau jadi hyper aku tetap berikan. Masalah diet ini memang barangkali akan menjadi specific bagi tiap individu.

I am not an Angel

I am not an angel, you see. It is not easy for me to forgive someone who hurt my feeling in the past. We had living next door with her in 2 years. My relationship with her is not always in good term. Even we can be said as family.

After the big flood last year, my washing machine had electricity circuit problem and I had not chance to call the service agency. I went next door to ask if I can use hers, just to dry my baby clothes. She replied “I just paid to repair my washing machine after the flood , and it cost Rp. 250.000,-. You will broke my washing machine”. When I asked if we could put meat and food on her fridge while mine was being repaired after the flood, her daughter said to my maid that we could not put much because of the electricity burden.

Oh God, I never forget her saying. Especially because during the big flood I had been helping her family by sending food, and baby food for her grand children. It was a big cost because every time to send food, I hadto spend Rp, 200.000,- just to cross over the flood. And it was going for 4 days. No thank you reply from her.

6 moths ago I had a chance to move to other house. Still in the area nearby. She, and her family never visited us, though its only 10 minutes drive. I dont mind about it.

Last week, exactly 1 year after the big flood, suddenly the flood coming over again to our area. I was so grateful the flood did not reach my house area. I called to her house in the afternoon, and talked to her oldest son, if they want to be evacuated to my house, because the water had come to their house. He replied that they had move to small cabin upstairs, and they planed to go to other relatives house in the same area. I said “OK”.

But at 21.00 pm, my husband finally pick them up, because they could not go anywhere, and the small grandchildren have been crying feeling uncomfortable living in the small, dusty cabin upstairs.
She came to my house with mixed expression, rather uncomfortable, embarrassed, and relieve. Maybe because she never visited me while living next door or in my new house. I thought they were also waiting to be picked up because feeling very uncomfortable to come here by they own. I felt rather sorry for her, seeing her with her family had misfortune of flood, moving to my house and bringing her own food in plastic bag (indomie,crackers), thought she knew that off course I have food to offer. She said that she could not go to other people house because she was worry of misbehavior of her 2 grandchildren. She said she could not bother others with her grandchildren (well, her grand children were really disaster in my house that night!!).

The next morning, after breakfast they were being escorted to their house, after we heard the flood had gone. She said thank you. After they left, I felt relieve, remembering how she treated me before. But the God always have the answer. Maybe God heard my pray. An “evil” part of my heart said “Thanks God, the misfortune did not come over me, but to someone who had hurt us” (heh heh).

Monday, January 21, 2008

Saat banjir dan Dzaki sakit

Paling sedih adalah tatkala Dzaki sakit. Seminggu kemarin dia sakit. Pilek, dan terlebih lagi, kulitnya seperti terbakar di bagian punggung, pinggang,dada, lengan atas dan bawah ketiak, gosong gosong, mengelupas dan perih karena digaruk Dzaki. Dzaki jadi sangat rewel,tidak mau dipegang, tidak mau main seperti biasanya, dan tidak mau menyedot susu maupun makan. Mungkin tenggorokannya sakit. Untungnya dia masih mau disendoki susu.

Di tempat terapi dia juga tidak ceria seperti biasanya. Tidak mau main, hanya berbaring di lantai. Selama seminggu dia juga ga mau memanggil “mama”.Dirumah hanya diam, berbaring, nonton DVD kesukaannya.

Aku dan suamiku berencana membawa ke dokter anak dan specialist kulit. Namun apa daya, hujan deras dua hari, dan banjir keburu datang hari Jumat yang lalu di Kelapa Gading. Beruntung rumah kami tidak kebajiran, namun akses untuk ke klinik terhalang oleh banjir. Kompleks kami seperti dikepung air. Bahkan Jumat malam itu, papa Dzaki harus berjalan kaki dari kantornya di Grogol hingga Kelapa Gading.

Nyari2 source informasi dari klinik anakku.net (klinik langganan), untuk meredakan pileknya aku kasih ALCO drops , dua kali sehari sesuai dosis. Kebetulan dulu jaman bayi pilek dokternya Dzaki juga ngasihnya ALCO drops. Untuk radang tenggorokannya, memang kasihan banget karena Dzaki jadi sulit menelan dan rewel. Kalau agak parah biasanya memang Dzaki dapat antibiotic dari dokter.

Aku sendiri sebenarnya tidak ingin Dzaki dikasih antibiotic lagi, apalagi baru 1 bulan yang lalu, dia sakit tenggorokan dan dikasih antibiotic. Aku coba perbanyak minum air putihnya, kemudian kuberikan vitamin seperti biasa, AKTAVOL dan Liver Cod Oil. Selama tiga hari akhirnya Dzaki mulai lahap makan, tidak rewel, dan mulai mau main. Mulai cerewet lagi dan dan lincah. Pileknya tinggal dikit, sehingga aku merasa tidak perlu memberikan obat lagi, cukup vitamin untuk daya tahan tubuhnya.
Kulitnya yang mengelupas tiap hari beberapa kali aku olesin pakai cream baby Cussons (kebetulan yang cocok untuk Dzaki cuma merek ini), minyak telon dan bedak bayi kuhentikan, kaus dalam tidak aku pakaikan. Habis mandi (airnya aku tuangin baby oil cussons juga), kulitnya aku keringkan, kuangin anginkan sebentar dan kuoles cream baby Cussons. Setelah itu kukenakan pakaian yang agak longgar. Makanan yang kira2 bikin alergi kulit semua aku hentikan (keju, mentega,minyak goreng,abon,telor). Alhamdulillah setelah tiga hari kulitnya mulai halus kembali.

Saat banjir sudah surut, Dzaki pun sudah pulih dan cerewet lagi dan memanggilku “mama”.

Apakah anak SN lebih susah diurus?

Apakah mengurus anak “SN” lebih susah daripada yang “non SN” ?
Jawabanku adalah : RELATIVE
Mau tidak mau aku mengamati para kerabat yang punya anak “non SN” untuk mencari jawaban.
Ilustrasi hasil pengamatanku berikut ini dari para kerabat yang memiliki anak “non SN” :

Masalah Makan
Seorang kerabat yang punya anak usia 3 tahun mengeluh karena anaknya susah makan, jika makan harus digendong keliling kompleks, bahkan hujan2, malam 2 sekalipun, demi anaknya mau makan. Selain itu makannya diemut, sehingga harus diblender halus, walaupun giginya sudah lengkap. Baru diusia 3 tahun ini anaknya mau makan nasi. Susu juga ga mau nyedot sehingga kerabatku ini tengah malam pun harus bangun demi menyuapi susu dengan sendok ke sang anak.

Anaknya kakakku sampai sempat dirawat di rumah sakit selama 10 hari karena mogok makan. Ususnya jadi lengket dan perutnya sakit. Gadis kecil kelas 4 SD ini benar benar mogok makan.

Anaknya iparku ada yang sangat tidak doyan sayur. Jika ada sepotong sayur di nasinya, langsung semua dimuntahkan. Usianya 4 tahun.

Adik dari anak yang mogok makan, justru kebalikannya,makannya tidak bisa distop. Badannya gembul sekali, 4 tahun beratnya 27 kilo. Hobinya jajan, dan memanggil tukang jajanan di rumah. Bisa terbayang pusingnya kakakku karena tukang roti dan makanan jadi demen mangkal di depan rumahnya. Belum lagi anaknya suka jalan sendiri ke warung beli jajan,ngebon tanpa setahu ibunya. Tahu tahu tiap akhir bulan selalu ada tagihan dari warung dekat rumah (huaha). Si anak ini saking ga bisa control makan, sering sampai kenyang pun ga mau berhenti, sehingga makanan dijejalkan sampai muntah. Sampai saat ini kakakku belum menemukan cara untuk mengontrol nafsu makan si adek ini.

Masalah perilaku
Anaknya adikku sangat pendiam dan pemalu. Walau di kelasnya ranking dan jago music, temannya sangat terbatas, hanya 1-2 orang dikelas.

Anak iparku sangat keras kepala, jika dilarang akan menggunakan senjata tangisnya yang super kencang, kapan saja dan dimana saja. Di mall sekalipun, jika keinginannya belum dituruti, dia akan nangis kencang dan berbaring di lantai.

Ada anak teman yang suka tiba tiba nyelonong ke rumah tetangga tanpa permisi, masuk, dan langsung mengambil mainan dan bermain dengan cueknya. Membujuknya pulang agak susah.

Anak saudaraku ada yang kalau pergi ke rumah orang suka membuka kulkas tanpa permisi.

Anak iparku ada yang suka mukul , termasuk memukul orangtuanya, saudaranya, nenek dan pembantunya. KAdang dia juga meludahi atau menyemburkan air minum ke muka orang. Sangat menjengkelkan.

Masalah tidur

Anak saudaraku ada yang suka tidurnya baru tengah malam. Kalau dia ga tidur, dia mengganggu yang lain, baik dengan cara membangunkan orang lain untuk diajak main, jika keinginannya tidak dituruti nangis super kencang di tengah malam. Sangat kencang, menyakitkan telinga sehingga tetangga sekitarpun mendengar. Sangat mengganggu orang2 serumah yang sudah tidur, jadi semua terbangun. Sering yang dewasa sekitarnya jadi emosi karenanya, karena sudah larut malam, capek dari kerja.

So ilustrasi diatas mematahkan anggapan orang bahwa anak “SN” lebih sukar diurus. Yang “non SN” pun ada masalah2 yang sukar diurus, kadang melebihi anak yang SN.


Sebagai contoh Dzaki yang tadinya sukar makan, Alhamdulillah sudah terbiasa makan di kursi, suka makan sayur, dan sekarang makannya tambah banyak. Makanan yang kasarpun mulai mau. Masalah perilaku marah, Dzaki marahnya sebentar, paling nangis ga lama dan tidak pernah ditempat umum. Masalah tidur aku juga bersyukur tidurnya sudah teratur, dan jika begadang sedikit, dia asik dengan buku, corat coret atau menyelesaikan “PR” loncat loncat. Jadi ga nangis menjerit tengah malam. Mungkin juga ini hasil dari kebiasaan yang dibangun atau latihan. Jadi menurutku anak yang "non SN" pun perlu dilatih jika ada masalah yang mengganggu.

Banjir lagi di Kelapa Gading

Duuh, banjir lagi deh Kelapa Gading. Tepat seperti tahun lalu. Dua hari ini hujan terus terusan, sehinnga sungai di belakang Kelapa Gading meluap. Untung tidak separah tahun lalu, namun cukup bikin khawatir. Sore ini jalanan di depan Mall Kelapa Gading tergenang air setinggi betis, juga samping kanan kiri dan belakangnya. Jadilah Mall seperti dikepung. Dari rumah, aku naik ojek menerobos sampai batas air, jalan kaki sebentar ke Mall dan belanja perbekalan makanan, susu dan popok bayi. Rumah kami, alhamdulillah tidak banjir, cuma di beberapa bagian cekungan di kompleks sekitar saja yang tergenang. Pasar pagi ini sepi, sebagian tergenang air semata kaki, tapi pedagang tetap jualan, dan beberapa ibu2 seperti aku menerobos hujan untuk belanja.

Mall juga sepi, beberapa toko tutup. Belum terlihat kepanikan banjir di antara pengunjung. Ada yang memborong bahan makanan di super market, tapi ada juga yang santai2 lihat perhiasan dan baju (hihi kali rumahnya memang aman).

Tapi kalau sudah begini, walau rumah aman, tetap aja aku siap siap perbekalan, juga naikin barang2 ke atas. Jaga jaga aja, jika kemungkinan lebih buruk. Semoga tidak banjir di rumah kami.

Rumah yang kami tinggali sampai tahun lalu, di Gading Elok, tergenang banjir. Mertua dan ipar yang tinggal dirumah sebelahnya, saat ini mengungsi ke loteng. Untuk mengungsi ke rumah kami mereka kesulitan karena akses tertutup dimana mana. Semoga banjir segera surut. Aku juga jadi teringat tetangga depan rumah yang tahun lalu sama sama mengungsi, karena banjir tahun lalu parah, sedada dan selama seminggu, dia jadi trauma. Tiap kali hujan malam dia tidak tidur sampai pagi. Walaupun hanya gerimispun, tetanggaku ini sangat cemas. Semoga dia juga baik2 saja.

Hujan hujan hujan

Setelah berhari hari panas yang sangat menyengat, sekarang 3 hari ini hujan terus menerus. Dari semalam hujan deras, hingga pagi ini juga tidak ada tanda tanda hujan bakal berhenti.

Seneng sih, karena udara jadi sejuk, setelah panas berhari hari. Cuma, cucian lama kering, Dzaki jadi pilek, ga bisa jalan jalan keluar maupun berenang.
Aku jadi ga bisa ke pasar untuk belanja pagi ini, padahal stok makanan di kulkas sudah mulai habis. Mau ke mall dekat rumah rasanya kok males membayangkan macetnya, cari parkirnya. Semoga agak siangan hujan berhenti sehingga bisa ke pasar, dan Dzaki bisa main di lapangan dekat rumah. Kasihan, dia bete banget di dalam rumah beberapa hari.

Acara mama Dzaki bikin puding untuk menu di hari yang panas, berganti dgn bikin cemilan untuk hari hujan, bakwan jagung yang jadi andalan hihi (bisanya cuma itu). Juga menu yang agak menghangatkan badan, plus bikin minuman jahe. Makanya bete banget nih mau ke pasar ga jadi jadi.

PANTI ASUHAN MURNI JAYA

Panti Asuhan Murni Jaya di Gang Pepaya 1 no 10, Jl. Kramat Jaya (Cilincing). Kondisinya, tidak jauh dari apa yang telah diulas di blog rekan2 yang pernah kesana sebelumnya (visit : http://jasonterra.blog.com/276031/, http://tunascendekia.org/wordpress/archives/363) . Berada di dalam gang yang cukup hanya 1 mobil, panti asuhan ini tidak kelihatan, nyaris terlewat . Kondisinya cukup memprihatinkan, dari fisik bangunannya dr luar maupun dalam, penampilan anak-anaknya yang lusuh. Pimpinanya adalah Bpk. Soetripno Wijaya. Menurut beliau saat ini ada 70 penghuni panti, dengan usia paling kecil 1 tahun, dan paling besar 16 tahun. Rata rata mereka sekolah sampai SMP. Anak anak yang besar bertanggung jawab mengasuh balita. Yayasan ini murni dikelola oleh keluarga, karena menjalankan amanah orangtua. Mungkin karena bukan yayasan besar dan terkenal, kondisinya jauh berbeda dari panti asuhan besar yg pernah aku kunjungi, dan menurutku karena ga terlalu banyak diketahui orang, donaturnya pun tidak sebanyak panti asuhan yang sudah sering terdengar. Menurut Bpk Soetripno dari PEMDA ada 20 anak dipanti yg dapat santunan Rp. 1.700,00 (atau Rp. 17.000,- kali ya, semoga aku salah dengar).

Aku sarankan juga untuk teman teman yang ingin memberikan sedekah ke anak yatim, panti asuhan ini sangat layak mendapatkan bantuan. Bisa berupa baju bekas layak pakai, kebutuhan sehari2 (sabun, detergen etc), bahan makanan, buku tulis untuk anak sekolah, pasti akan membantu meringankan kondisi mereka.


Panti Asuhan Yatim Piatu
Yayasan Murni Jaya
Jl. Kramat Jaya Gg. Pepaya I no 10 Jakarta Utara. Telepon : 4408904
BRI rekening : 03290101.6209.505 QC Soetripno Wijaya
Mandiri rekening : 121.0096004902 QC Soetripno Wijaya

During this last 4 months

Sudah sekitar 4 bulan semenjak diagnose awal sang dokter mengenai Dzaki, dan 1 bulan menjalani SI, saat ini demikian perkembangan Dzaki :
Yang menghilang :
1. Mulai banyak berkurangnya jalan jinjit
2. Muter2nya kayak gasingan ilang
3. Mata kedip2 nya udah jarangggg sekali
4. Kebiasaan buka tutup pintu yang bisa berulang dan lama sudah nyaris tidak pernah dilakukan

Ketrampilan yang nambah :
1.Corat coret crayon
2. Manggil “mama”, “papa” (yg papa masih agak jarang), bilang “dah” (sudah), dan “hau” untuk nakut nakutin kucing di jalan atau melihat gambar singa.
3. Mulai berani main perosotan, masuk tenda mainan, gorong2 mainan, dan loncat dari kasur tinggi ke kasur bawah, naik turun tangga (pegangan)
4. Mulai mau kontak mata wlo masih sedikit
5. Kadang noleh dipanggil
6. Meniru orang sholat (mulai imitating)
7. Tidur dengan jam yang “normal” sekarang tidur rata rata jam 10 atau jam 11 malam, bangun jam 8-9 pagi. Tidak gelisah saat tidur atau bangun tengah malam, maupun tidur menjelang subuh.

Monday, January 14, 2008

Duka

Malam malam membaca berbagai literature mengenai autism,penyebabnya, metode terapinya dan membaca sharing teman teman para orangtua yang lain, sering membuatku menangis (and I don’t know why)

Walaupun ketika esok, sang dokter, atau terapis mengucapkan kata kata yang menghibur, tetap saja, kalau Dzaki sudah tidur, masih saja rasanya airmata kok tidak mau berhenti (and I don’t know why)

Merasa sedih, bersalah, cemas akan ke depannya, berharap akan adanya keajaiban esok harinya. Mengamati muka bocahnya pada saat tidur lelap, kupanjatkan doa agar Tuhan selalu mengasihi dan melindungiNya, memberikan kemudahan untuk perkembangannya.

Salah satu ucapan rekan senasib di milist yang membuat hati agak ayem, bahwa Tuhan tidak tidur.

Ke Pasar

Sudah lama sekali rasanya tidak pernah belanja di Pasar Tradisonal. Selama ini lebih sering belanja ke supermarket sambil jalan ke mall . Seringkali saat masih jadi “wanita bekerja” aku belanja di supermarket sepulang bekerja, jadi nyaris ga pernah ke pasar selama beberapa tahun. Kecuali pas mudik ke Yogya, rumah ibuku di Yogya memang hanya 300 mtr dr pasar.

Ingat pesan sang therapist untuk mengurangi jalan ke mall (katanya tidak ada interaksi social disana) , dan Dzaki harus banyak jalan jalan di lingkungan sekitar, sore sore aku ajak Dzaki jalan jalan ke pasar dekat kompleks rumahku, sekitar 15 menit jalan kaki dari rumah. Untungnya memang pasar kecil dekat rumah ini buka sampai sore. Kalau pagi, sering Dzaki belum bangun (mamanya juga hehe). Pasarnya juga ga terlalu crowded, dan tidak terlalu becek. Dasarnya memang itu bukan pasar beneran, hanya satu ruas jalan aspal dengan sekumpulan pedagang dan toko2 kecil di kanan kirinya, plus lapak lapak kaki lima. Tidak ada bangunan khusus untuk pasar.

Karena Dzaki belum mau bener bener jalan kaki kalau ke pasar, aku naikin ke skuter bebeknya (scoobek), aku ajak ke pasar jalan sambil sekalian belanja sedikit keperluan dapur yang habis. Dzaki seneng sekali melihat keramaian pasar sore. Aku pun seneng karena pasarnya cukup lengkap, dan banyak jajanan (hehe).Disana mama tadi beli jahe buat bikin minuman, dan bbrp sayuran. Terus di pasar ternyata ada apotik kecil, jadi sekalian beli obat batuk buat mama dan papa Dzaki. Trus ada penjual kue terang bulan, mama beli kue terang bulan kacang coklat (hmm rasanya dah lama ga makan ini) , roti tawar dr bakery yg kebetulan lewat naik sepeda. Ada juga penjual pakaian dan daster. Susternya Dzaki langsung mampir dan nawar nawar.

Senang rasanya, dan yang paling penting Dzaki anteng di keramaian orang. Pulangnya mama bawa tentengan banyak heh heh. Lain kali kesana lagi ya nak.

Because You Are Unique

Ingat ingat masa sekolah dulu, orangtuaku selalu menekankan pentingnya belajar di sekolah, masuk ke sekolah favorite, serta penguasaan bahasa asing. SMA dan kuliah juga wajib jurusan ilmu pasti (jaman dulu A1).
Semua dilakoni aku dan kedua saudaraku dengan pemahaman bahwa itu hal yang sangat wajar dan menjadi kewajiban yang “wajar”. Padahal jujur saja, sebenarnya selain yang bahasa asing dan belajar menari, yang lainnya kulakoni setengah terpaksa.

Aku merasa ga gape banget matematika, ga tertarik dengan fisika, apalagi kimia. Celakanya, di SMAku yang termasuk unggulan, mata pelajaran itu yang menjadi focus utama. Lebih malang lagi, di SMAku ini, masuk jurusan Bilogi (A2) itu dipandang sbg “second class citizen”, apalagi masuk Sosial (A3) yang hanya ada satu kelas dan muridnya bisa dihitung pakai jari, kebanyakan untuk murid2 pindahan. Menjadi bahan pembicaraan yang seru saat kenaikan kelas 2 SMA, dimana nilai2 siswa menentukan boleh tidaknya masuk ke jurusan A1, kalau kurang dikit ke A2, kurang banyak ya ke A3. Seingatku, sangat sedikit prosentasenya yang memilih karena benar2 suka, kebanyakan karena ditentukan oleh nilai (baca :kemampuan). Stigma yang ada, kalau masuk A3 berarti ga pinter. Nasibku sendiri, dengan nilai yang ngepas, boleh memilih jurusan manapun. Namun walaupun aku sangat berminat pada bidang biologi maupun bahasa, I just “following the crowd” masuk ke A1. Entah karena “kewajiban “ dari orangtua, atau karena agar kalau A1 nanti UMPTNnya bisa lebih banyak pilihan, boleh ikut yg IPA dan IPS (kalau A3 hanya boleh IPS aja), atau yang terakhir ini …..karena gengsi.

Dengan masa masa yang menyiksa dan nilai yang tidak dapat dibanggakan, akhirnya sedikit “pencerahan” itu datang, pas aku dapat kesempatan mencicipi pendidikan di Australia slm setahun. Sebelum masuk SMA tersebut aku diwawancarai, ditanya ingin menjadi apa, ingin masuk jurusan apa di universitas nanti. Setelah menjawab aku pengen masuk kedokteran (huahaha, jawaban “wajib”), mereka memilihkan mata pelajaran matematika basic, biologi dan kimia. Saat itu aku menjawab bahwa aku harus belajar fisika dan matematika aljabar/trigonometri. Penjelasan mereka sungguh mengejutkan : “jika ingin melanjutkan kedokteran, mengapa harus belajar fisika dan matematika yang lebih teknis?”.Dengan susah payah aku menjelaskan bahawa kembali ke kelas 3 SMA di indo nanti, aku harus mengikuti pelajaran tersebut dan ujian masuk universitas juga akan mencakup mata pelajaran tersebut. Untungnya pihak sekolah memaklumi system yang berbeda ini, dan mengijinkanku mengikuti pelajaran yg “wajib” tersebut. Namun mereka menjelaskan bahwa system mereka mengarahkan pemilihan mata pelajaran berdasarkan minat dan jurusan lanjutan yg nanti akan diampil di universitas. Seorang murid yang ingin menjadi desaigner, tidak perlu susah payah ikut materi fisika-kima. Byuh, sungguh indahnya andai sekolah SMAku di indo begitu juga. Ga perlu membuang energi , waktu plus stress dgn bahan2 pelajaran yang tidak menjadi minat, atau tidak sesuai bakat. Ga perlu malu bodoh di fisika, namun gape di bahasa, atau unggul di kimia, namun nilai hapalannya hopeless. Aku jadi ingat temanku sekelas yang sangat sangat jago matematika dan kimia, namun nilai Bahasa Indonesianya lima, dan ditertawakan sekelas. Jadi ingat guru fisikaku di SMA yang menangis karena aku lolos UMPTN, karena dia kawatir dengan nilai fisikaku yang 3 (bahkan orangtuaku pun menangis sedih saat nilai fisika kimiaku 3). Atau teman SDku yang sangat jago menggambar, namun buruk di mata pelajaran matematika, sehingga selalu menjadi sasaran kemarahan sang guru.

Pengalaman dengan pendidikan tersebut sangat mirip dengan Ilustrasi bacaan bersumber dari Chuck Swindoll dalam bukunya “Standing Out” mengenai pelajaran wajib bagi para binatang : lari,memanjat,berenang, dan terbang. Supaya lebih mudah mengaturnya, setiap binatang harus melakukan kegiatan itu. Bebek sangat pintar berenang. Namun ia hanya pas pasan dalam aktifitas terbang, apalagi lari. Karena larinya jelek, maka bebek harus berhenti berenang dan tetap tinggal di sekolah untuk berlatih lari. Akibatnya, selaput kaki bebek luka,sehingga nilai renangnya tidak begitu bagus lagi.Kelinci yang mula mula berada di puncak prestasi dalam latihan lari, tetapi otot kakinya menjadi kram karena harus menaikkan nilai berenangnya. Tupai ahli memanjat, tetapi dia frustasi dalam kelas terbang karena guru menyuruhnya melayang dari tanah ke atas, bukan dari atas pohon ke bawah seperti yang mahir dilakukannya. Ia mengalami kejang kaki karena latihan terlalu keras. Karena itu tupai hanya mendapat nilai C dalam memanjat dan D dalam pelajaran lari. Burung rajawali adalah anak bermasalah dan harus berdisiplin dengan keras karena tidak mau mengikuti aturan kebanyakan. Dalam kelas memanjat,ia memang mengalahkan semua binatang untuk mencapai tujuan, tetapi ia memaksakan caranya sendiri untuk sampai kesana.

Setiap manusia, adalah unik, demikian juga anak anak. Ada yang tertarik pada science, ada yang lebih suka belajar bahasa. Ada yang suka mainan otomototif, ada yang lebih memilih game computer. Ada yang gampang bergaul, ada yang pemalu.Sesungguhnya jika para orangtua mau belajar memahami dan menerima perbedaan tersebut, akan membesarkan anak yang lebih percaya diri, dan nyaman dengan kondisinya, dan lebih penting lagi, dapat menghargai dirinya sendiri.

Aku sendiri berkeinginan membesarkan anakku tanpa menjejalinya dengan hal hal “wajib” yang pernah aku alami. Selain membuang tenaga, waktu, pikiran dan biaya (karena di masa itu aku harus les kesana kemari , habis uang banyak untuk memperbaiki nilai2 kimia dan fisikaku yang tetap saja hopeless) tanpa hasil yang optimal, akan lebih baik mengembangkan hal hal yang memang menjadi minat dan sesuai dengan keunikan bakatnya.
Aku belum menemukan bakat Dzaki, mungkin karena usianya juga belum 2 tahun. Namun dia suka corat coret dan bongkar2 mainan, dia juga suka mainan music. Siapa tahu seiring dengan bertambah usianya, minat dan bakatnya akan semakin kelihatan.

Saturday, December 29, 2007

LIBURAN DI YOGYA












Liburan dan cuti bersama Idul Adha dan natal ini kami sekeluarga ke Yogyakarta naik mobil.








BERANGKAT

Setelah sholat id hari Kamis 20 Desember berangkat dengan memilih jalur PANTURA. Ide papa untuk memilih berangkat saat Idul Adha karena yakin jalanan bakal sepi.hehe ternyata keliru.
Di mobil

Mainan kacang


Di Cirebon macet 1 jam akibat perbaikan jalanan, serta pasar tumpah menyambut Idhul Adha. Setelah lewat kemacetan di ujung tol Cirebon, jam 2 siang kami melepas lelah di resto Pesona Alam (ini karena ga ada pilihan lain), suasana lumayan, makanannya rasanya standart, yang paling enak menurutku pepes ikan masnya. Yang penting Dzaki mau makan, meluruskan kaki, dan berganti baju disana. Alhasil, berangkat jam 7 pagi , jam 7 sore baru sampai kota Pekalongan. Dzaki juga bête karena macet, dan bosan di mobil. Mama juga bête (lihat foto sebelah, aku yang bete)karena perasaan kok nggak nyampai -nyampai. Hopeless, dan khawatir Dzaki rewel, kami memilih bermalam di hotel di kota Batang, kota kecil setelah Pekalongan. Menginap di hotel Sendang Sari, yang kami lewatin keliatan OK. Hotelnya menurut kami OK banget untuk ukuran transit, kamar luas, bersih,dan nyaman, dan channel HBO untuk kartun anak (hehe), harga relative reasonable. Makanan lumayan enak, dan yang penting, ada kolam renang luas dan sangat nyaman. Dzaki seneng sekali, mau makan, nonton cartoon network dan bobok pules malamnya. Aku dan papa iseng nyari makan malam di alun alun kota, dapat minuman jahe yang enak sekali, dan ayam goreng kampung. Semua kami bungkus dan dimakan di hotel sama sama.


Pagi berikutnya setelah papa dan Dzaki puas berenang, jam 10 pagi melanjutkan perjalanan. Menjelang masuk Semarang macet banget, keluar semarang juga macet buangettt. Di Ambarawa kami istirahat di tempat “wajib” stop yaitu KOPI EVA. Ini tempat istirahat favorit sejak jaman almarhum ayahku dulu selalu mampir kesini. Suasananya yang sejuk, dan makanan yang enak. Kami pesan sup ayam, nasi rames dan sate kambing, tak lupa jahe hangat. Makanan kecil yang disediakan pun nyam nyam . Tahu, serta piyangko kacang kegemaran . Sayang Dzaki ga mau makan disini, dia asik berlarian di resto yang luas dan main mukul mukul gamelan disana.
Kami melanjutkan perjalanan ke tujuan Yogya. Sepanjang perjalanan gerimis, akhirnya sampai rumah di Yogya jam 4 sore. Benar benar perjalanan yang penjang.

Berenang di hotel

Lelap

Di KOPI EVA


Di YOGYA (makan,makan,dan makan lagi)
Selama 4 di Yogya Dzaki benar benar sibuk. Hari Sabtu pagi main di Taman Kanak Kanak Kaliurang, nenek (ibuku) juga ikut. Disana sambil bergantian mengawasi Dzaki main perosotan, kami memesan bakso, sate kelinci dan ronde jahe. Benar benar nikmat. Dzaki senang sekali berlarian, main perosotan, dan menyeberangi jembatan kayu di taman. Setelah puas , kami kembali ke selatan dan mampir ke rumah simbah putri (nenekku dari bapak) di Pakem. Di rumah dan halamanya yang luas, Dzaki puas berlarian (hehe rumah di Jakarta terasa kecil ya Dzaki). Simbah putri, seperti biasa mewajibkan kami makan kalau berkunjung kerumahnya. Nyam, ini susah ditolak (terutama oleh mama gembul). Nasi dengan sayur bobor,brongkos, lele sungai goreng dan abon bikinan simbah, benar benar nyam nyam (mama wisata nyam nyam).
Hari Minggu Dzaki berenang di sekolah Salsabilla, setelah itu kami ke daerah Turi (pakem) makan siang di resto Kangen Desa. Suasananya enak, dengan tempat makan lesehan dari bamboo yang mengelilingi danau kecil buatan. Makanannya tidak terlalu istimewa rasanya, standart, harganya juga standart. Yang penting ada wader goreng (ikan sungai kecil kecil) serta nila goreng kering (di Jakarta susah nyarinya hehe).


Menu resto Kangen Desa

Di resto Kangen Desa


Hari Senin kami menjelajah daerah Selatan. Kami mengunjungi Bude (panggilan nenek dari pihak ibu) di Patehan, perkampungan belakang Keraton Yogyakarta. Dari sana kami naik becak langganan, keliling alu alun selatan, Keraton dan Malioboro. Dzaki senang sekali naik becak untuk pertama kalinya. Diperjalanan kami mampir beli mainan gamelan kecil di samping Keraton, serta baju batik di salah satu butik batik di Pasar Ngasem. Pak becak yang selalu enggan menyebutkan ongkos kami berikan 30 ribu sesampainya kembali di rumah nenek. Di tempat nenek, aku menyempatkan makan bakso Pak No, yang warungnya nempel di bekas RS Pugeran. Malamnya kami makan sate godril di Jalan Kaliurang. Aku sempet beli batik pekalongan di toko kecil sampingnya.

Hari Selasa, saatnya belanja oleh oleh. Kami beli gudeg bu Ahmad di Jalan Kaliurang, Bakpia Podjok , terus minuman jahe di Mirota Kampus, beli kaos DAGADU di pakuningratan. Kami jyga sempet mampir di bengkelnya kaus JARAN di ring road, namun saying stok lagi kosong. Makan malam kami lewatkan di tengah hujan deras di warung makan Bu Ning, Jalan Kaliurang km 8. Ayam bakar nya enak, yang istimewa lagi ada menu mendoan bakar. Harganya? MURAH.

Hari Rabu subuh kami kembali ke Jakarta, perjalanan kali ini memilih jalur tengah, melewati Wates, Gombong, naik ke Tegal, dan dari Tegal kembali melewati PANTURA.Perjalanan lebih cepat, dan pemandangan di jalur tengah lebih asyik. Sayang ga sempat mampir di tempat makan makan yang keliatannya nyam nyam. Kami sempat berhenti di brebes, beli telor asin dan poci tanah liat.Untuk makan, kami sempat berhenti dua kali, namun tempatnya standart, karena mengejar waktu jadi ga bisa wisata nyam nyam. Jam lima sore, kami telah sampai kembali di rumah dengan selamat.
Senang rasanya, berlibur sama Dzaki, dia menikmati perjalanan jauh dengan mobil, menginap ditempat lain, serta mengunjungi keluarga tanpa rewel sama sekali.

Tapi buat mama rasanya liburannya kurang lama. Maunya ngajak Dzaki hiking ke hutan wisata, ke Borobudur dan naik turun tangga di Sabha Pramana UGM sore sore next time. Terus buat mama ada yang ketinggalan , belum kesampaian (target nyam nyam mama next time kalau ke Yogya)
Ke pasar pathuk beli jajanan pasar
Kaliurang beli pecel dan juadah
Ke muntilan makan pecel lele di Cinde Laras
Ke Bakmi KADIN minum bajigurnya
Ke Soto sawah di daerah bekalang jalan Godean.
Ke pasar Gedhe ngubek ubek barang barang aneh dan kain.
Ke Kota gedhe beli perak, terus makan sate sapi di Lapangan Karang.
Makan bakwan Malang yg mangkal di seputaran kampus UGM.

Thursday, December 13, 2007

Are We "Normal" ?

“We can not say the child is normal or not. None of us is normal. Everybody has abnormal side on his personality. Or we have an autism part in our personality” Kata-kata dari JS, mantan atasanku, ini terus menerus terngiang.
Seolah kalimat ini terbukti lagi saat aku berkonsultasi dengan therapist anakku. Dia menjelaskan bahwa kita tidak akan memakai istilah “normal” , karena setiap manusia pasti punya sisi tidak normal. Yang akan menjadi tujuan terapi adalah membantu anak untuk dapat menerima stimulus, dan meresponnya secara adaptif. Adaptif adalah berarti dapat diterima dan “wajar” (dapat diterima dan wajar pun normative bukak kah??. Misalnya jika ruangan terasa panas, anak belajar untuk merespon dengan adaptif, misalnya kipas-kipas atau membuka pintu, bukan berteriak-teriak marah. Itu lah respon adaptif yang diharapkan.

Merenungkan “normal “, sebagai orangtua pada umumnya tentu menginginkan anak “normal”. Namun apakah “normal” menjadi suatu yang essensial?. Bagaimana orang-orang “normal” yang tidak cacat fisik namun malas tidak mau bekerja, atau melakukan criminal?, Bagaimana dengan orang normal yang tidak mau bekerja sama dengan rekan kerja? Atau korupsi?Atau tidak berempati atas kesusahan yang lain? Atau punya pilihan pribadi yang mungkin menurut norma dan tradisi masyarakat dianggap “nyeleneh?”
Apakah bersekolah, bekerja, menikah kemudian menjadi ukuran “normal”? Bagaimana jika di sekolah dia menyiksatemannya? Atau di tempat kerja berlaku curang? Atau kawin cerai? (yang lebih parah jika tetap merasa bahwa tindakannya benar)
Rasanya “normal” bukan menjadi target utama. Kalau merenungi lebih jauh rasanya akupun punya sisi banyak yang “abnormal” just like everybody else.

Seakan mengamini penjelasan therapist anakku, aku sepakat dengan meniadakan istilah “normal” dan berfokus melatih anak untuk lebih adaptif. Aku bahkan lega ketika ada anak lain menangis anakku ikut menangis, entah alasannya apa dia menangis, menurutku anakku berempati kepada temannya yang sedang bersedih, dan bukan tertawa diatas penderitaan yang lain.

Tuesday, December 11, 2007

Fun Homework

Alhamdulillah setelah menunggu dari bulan September yg akhirnya hari ini mendapat kesempatan untuk observasi dan konsultasi di klinik di Pulomas. Karena ada beberapa anak yang telah menyelesaikan terapi, Dzaki bisa mendapatkan jadwal untuk terapi disana. Aku juga bersyukur kami tinggal tidak jauh dari tempat ini. Hanya sekitar 15 menit driving dr Kelapa Gading, tepatnya di daerah Pulomas.
Mulai next week, Dzaki akan menjalani Terapi Sensorik Integrasi (biasa disingkat SI) seminggu sekali di tempat ini. Selain itu banyak juga PR buat mama papanya dirumah. Mengenai Sensorik Integrasi sendiri penjelasannya agak panjang, next time aku ulas.
Home worknya sendiri berupa beberapa kegiatan secara rutin yang menurutku sungguh fun untuk dilakukan bersama keluarga, antara lain : berjalan-jalan (jalan kaki), berenang, berkuda, dan hiking.
Tujuan dari kegiatan tersebut antara lain adalah :
· Meningkatkan awareness terhadap lingkungan
· Membangun interaksi dengan orang lain
· Memberi kerja otot
· Latihan keseimbangan
· Memberikan stimulus (penglihatan, perabaan, pendengaran)
Perubahan yang langsung tampak setelah Dzaki berjalan-jalan dan berenang , jam tidurnya mulai banyak dan tidak begadang lagi, dan mulai lebih tenang, tidak rewelan.
Untungnya Dzaki sangat menyukai kegiatan jalan-jalan dan berenang. Berenangnya kesenengen sampai matanya radang, akhirnya ke dokter dan dapat obat tetes, salep dan obat untuk diminum sampai radangnya sembuh.