Thursday, December 18, 2008

The Hardest Part

The hardest part (from my side) of having children with special need is not the child condition itself. It's how to open our spouse or our family minds about the child condition and to tell them what to do for helping the children.

Dan ini sering saya alami. Ketika mulai mengkhawatirkan perkembangan Dzaki di usianya yg ke 15 bulan, suami saya selalu berkata "kamu terlalu kawatir, dia baik baik saja kok". Dan akhirnya saya urung menanyakan ke ahli syaraf anak.

Di usia ke 18 bulan, saya tidak dapat menahan diri lama, dengan ngotot saya membawa Dzaki ke ahli syaraf anak, yang saat itu mulai berputar2, menjedot2kan kepala ke tembok, dan kata2nya hilang. Itupun di jalan kami perlu berdebat lama. Menurut suami saya saya terlalu curigaan, banyak anak2 kecil yang begitu ga papa. Saya sangat bersyukur bahwa saat itu saya adalah orang yang sangat ngotot.

Kami ke dua ahli syaraf anak, dan mendapatkan diagnosa yang sama PDD NOS (dan semacamnya), dan anak kami harus terapi. Itupun masih diwarnai ketidakpercayaan suami saya
saat mengantar ke tempat terapi dgn mengomel saat menyetir "Ngapain sih harus kesini".
Yang saya lakukan hanya menutup kuping rapat rapat .

Susah memang, bahkan 1 tahun menjalani terapi inipun, dan walau suami sdh mendengar penjelasan dokter maupun terapis, tetap kadang2 dalam situasi tertentu, dia berpikir lain. Misalnya belum lama ini saat Dzaki sakit tenggorokan dan menangis sepanjang hari, menurut suami saya "Dzaki kesambet penunggu pohon yg sdng dipotong di lapangan samping rumah".

Pun saat ini, saya sedang memikirkan pasti ada yg masih missing, krn 2 tahun pertumbuhan fisik Dzaki kurang, makan susah, dan saya yakin ada di dalam tubuhnya mungkin hrs ada yg diperiksa, entah pencernaannya atau apa, kalau diskusi dgn teman dan baca di internet anak2 autis banyak yg mengalami bocor usus atau alergi logam.Terapi saya yakin hanya salah satu dr upaya saja, dan harus didukung dgn yg lain.

Saat saya sampaikan ini, tanggapan suami saya adalah " kamu terlalu banyak baca internet. Kamu terlalu paranoid ga percaya dokter, kan dokter ga bilang apa2 ttg alergi atau usus bocor" atau "kan Dzaki sudah terapi"

Bisa jadi, saya salah, bisa jadi kasus alergi itu jg tdk terjadi pada anak saya. Tapi rasanya tdk ada salahnya dicoba, lebih baik drpd tidak. Krn dua tahun ini kemajuan Dzaki jg belum bisa dikatakan menggembirakan, saya tetap akan ngotot untuk mencoba konsultasi ke ahli gastro dan alergi.

"Maaf ya nak, terpaksa kali ini mamamu harus ngeyel, demi kebaikan kamu"

1 comment:

Ade.M.Sony said...

duh,...yang sabar ya mba'...instink ibu biasanya benar...
SELAMAT HARI IBU..
YOU ARE THE BLESSED MOM..
Sun jauh untuk dzaki....