Monday, January 21, 2008

Saat banjir dan Dzaki sakit

Paling sedih adalah tatkala Dzaki sakit. Seminggu kemarin dia sakit. Pilek, dan terlebih lagi, kulitnya seperti terbakar di bagian punggung, pinggang,dada, lengan atas dan bawah ketiak, gosong gosong, mengelupas dan perih karena digaruk Dzaki. Dzaki jadi sangat rewel,tidak mau dipegang, tidak mau main seperti biasanya, dan tidak mau menyedot susu maupun makan. Mungkin tenggorokannya sakit. Untungnya dia masih mau disendoki susu.

Di tempat terapi dia juga tidak ceria seperti biasanya. Tidak mau main, hanya berbaring di lantai. Selama seminggu dia juga ga mau memanggil “mama”.Dirumah hanya diam, berbaring, nonton DVD kesukaannya.

Aku dan suamiku berencana membawa ke dokter anak dan specialist kulit. Namun apa daya, hujan deras dua hari, dan banjir keburu datang hari Jumat yang lalu di Kelapa Gading. Beruntung rumah kami tidak kebajiran, namun akses untuk ke klinik terhalang oleh banjir. Kompleks kami seperti dikepung air. Bahkan Jumat malam itu, papa Dzaki harus berjalan kaki dari kantornya di Grogol hingga Kelapa Gading.

Nyari2 source informasi dari klinik anakku.net (klinik langganan), untuk meredakan pileknya aku kasih ALCO drops , dua kali sehari sesuai dosis. Kebetulan dulu jaman bayi pilek dokternya Dzaki juga ngasihnya ALCO drops. Untuk radang tenggorokannya, memang kasihan banget karena Dzaki jadi sulit menelan dan rewel. Kalau agak parah biasanya memang Dzaki dapat antibiotic dari dokter.

Aku sendiri sebenarnya tidak ingin Dzaki dikasih antibiotic lagi, apalagi baru 1 bulan yang lalu, dia sakit tenggorokan dan dikasih antibiotic. Aku coba perbanyak minum air putihnya, kemudian kuberikan vitamin seperti biasa, AKTAVOL dan Liver Cod Oil. Selama tiga hari akhirnya Dzaki mulai lahap makan, tidak rewel, dan mulai mau main. Mulai cerewet lagi dan dan lincah. Pileknya tinggal dikit, sehingga aku merasa tidak perlu memberikan obat lagi, cukup vitamin untuk daya tahan tubuhnya.
Kulitnya yang mengelupas tiap hari beberapa kali aku olesin pakai cream baby Cussons (kebetulan yang cocok untuk Dzaki cuma merek ini), minyak telon dan bedak bayi kuhentikan, kaus dalam tidak aku pakaikan. Habis mandi (airnya aku tuangin baby oil cussons juga), kulitnya aku keringkan, kuangin anginkan sebentar dan kuoles cream baby Cussons. Setelah itu kukenakan pakaian yang agak longgar. Makanan yang kira2 bikin alergi kulit semua aku hentikan (keju, mentega,minyak goreng,abon,telor). Alhamdulillah setelah tiga hari kulitnya mulai halus kembali.

Saat banjir sudah surut, Dzaki pun sudah pulih dan cerewet lagi dan memanggilku “mama”.

Apakah anak SN lebih susah diurus?

Apakah mengurus anak “SN” lebih susah daripada yang “non SN” ?
Jawabanku adalah : RELATIVE
Mau tidak mau aku mengamati para kerabat yang punya anak “non SN” untuk mencari jawaban.
Ilustrasi hasil pengamatanku berikut ini dari para kerabat yang memiliki anak “non SN” :

Masalah Makan
Seorang kerabat yang punya anak usia 3 tahun mengeluh karena anaknya susah makan, jika makan harus digendong keliling kompleks, bahkan hujan2, malam 2 sekalipun, demi anaknya mau makan. Selain itu makannya diemut, sehingga harus diblender halus, walaupun giginya sudah lengkap. Baru diusia 3 tahun ini anaknya mau makan nasi. Susu juga ga mau nyedot sehingga kerabatku ini tengah malam pun harus bangun demi menyuapi susu dengan sendok ke sang anak.

Anaknya kakakku sampai sempat dirawat di rumah sakit selama 10 hari karena mogok makan. Ususnya jadi lengket dan perutnya sakit. Gadis kecil kelas 4 SD ini benar benar mogok makan.

Anaknya iparku ada yang sangat tidak doyan sayur. Jika ada sepotong sayur di nasinya, langsung semua dimuntahkan. Usianya 4 tahun.

Adik dari anak yang mogok makan, justru kebalikannya,makannya tidak bisa distop. Badannya gembul sekali, 4 tahun beratnya 27 kilo. Hobinya jajan, dan memanggil tukang jajanan di rumah. Bisa terbayang pusingnya kakakku karena tukang roti dan makanan jadi demen mangkal di depan rumahnya. Belum lagi anaknya suka jalan sendiri ke warung beli jajan,ngebon tanpa setahu ibunya. Tahu tahu tiap akhir bulan selalu ada tagihan dari warung dekat rumah (huaha). Si anak ini saking ga bisa control makan, sering sampai kenyang pun ga mau berhenti, sehingga makanan dijejalkan sampai muntah. Sampai saat ini kakakku belum menemukan cara untuk mengontrol nafsu makan si adek ini.

Masalah perilaku
Anaknya adikku sangat pendiam dan pemalu. Walau di kelasnya ranking dan jago music, temannya sangat terbatas, hanya 1-2 orang dikelas.

Anak iparku sangat keras kepala, jika dilarang akan menggunakan senjata tangisnya yang super kencang, kapan saja dan dimana saja. Di mall sekalipun, jika keinginannya belum dituruti, dia akan nangis kencang dan berbaring di lantai.

Ada anak teman yang suka tiba tiba nyelonong ke rumah tetangga tanpa permisi, masuk, dan langsung mengambil mainan dan bermain dengan cueknya. Membujuknya pulang agak susah.

Anak saudaraku ada yang kalau pergi ke rumah orang suka membuka kulkas tanpa permisi.

Anak iparku ada yang suka mukul , termasuk memukul orangtuanya, saudaranya, nenek dan pembantunya. KAdang dia juga meludahi atau menyemburkan air minum ke muka orang. Sangat menjengkelkan.

Masalah tidur

Anak saudaraku ada yang suka tidurnya baru tengah malam. Kalau dia ga tidur, dia mengganggu yang lain, baik dengan cara membangunkan orang lain untuk diajak main, jika keinginannya tidak dituruti nangis super kencang di tengah malam. Sangat kencang, menyakitkan telinga sehingga tetangga sekitarpun mendengar. Sangat mengganggu orang2 serumah yang sudah tidur, jadi semua terbangun. Sering yang dewasa sekitarnya jadi emosi karenanya, karena sudah larut malam, capek dari kerja.

So ilustrasi diatas mematahkan anggapan orang bahwa anak “SN” lebih sukar diurus. Yang “non SN” pun ada masalah2 yang sukar diurus, kadang melebihi anak yang SN.


Sebagai contoh Dzaki yang tadinya sukar makan, Alhamdulillah sudah terbiasa makan di kursi, suka makan sayur, dan sekarang makannya tambah banyak. Makanan yang kasarpun mulai mau. Masalah perilaku marah, Dzaki marahnya sebentar, paling nangis ga lama dan tidak pernah ditempat umum. Masalah tidur aku juga bersyukur tidurnya sudah teratur, dan jika begadang sedikit, dia asik dengan buku, corat coret atau menyelesaikan “PR” loncat loncat. Jadi ga nangis menjerit tengah malam. Mungkin juga ini hasil dari kebiasaan yang dibangun atau latihan. Jadi menurutku anak yang "non SN" pun perlu dilatih jika ada masalah yang mengganggu.

Banjir lagi di Kelapa Gading

Duuh, banjir lagi deh Kelapa Gading. Tepat seperti tahun lalu. Dua hari ini hujan terus terusan, sehinnga sungai di belakang Kelapa Gading meluap. Untung tidak separah tahun lalu, namun cukup bikin khawatir. Sore ini jalanan di depan Mall Kelapa Gading tergenang air setinggi betis, juga samping kanan kiri dan belakangnya. Jadilah Mall seperti dikepung. Dari rumah, aku naik ojek menerobos sampai batas air, jalan kaki sebentar ke Mall dan belanja perbekalan makanan, susu dan popok bayi. Rumah kami, alhamdulillah tidak banjir, cuma di beberapa bagian cekungan di kompleks sekitar saja yang tergenang. Pasar pagi ini sepi, sebagian tergenang air semata kaki, tapi pedagang tetap jualan, dan beberapa ibu2 seperti aku menerobos hujan untuk belanja.

Mall juga sepi, beberapa toko tutup. Belum terlihat kepanikan banjir di antara pengunjung. Ada yang memborong bahan makanan di super market, tapi ada juga yang santai2 lihat perhiasan dan baju (hihi kali rumahnya memang aman).

Tapi kalau sudah begini, walau rumah aman, tetap aja aku siap siap perbekalan, juga naikin barang2 ke atas. Jaga jaga aja, jika kemungkinan lebih buruk. Semoga tidak banjir di rumah kami.

Rumah yang kami tinggali sampai tahun lalu, di Gading Elok, tergenang banjir. Mertua dan ipar yang tinggal dirumah sebelahnya, saat ini mengungsi ke loteng. Untuk mengungsi ke rumah kami mereka kesulitan karena akses tertutup dimana mana. Semoga banjir segera surut. Aku juga jadi teringat tetangga depan rumah yang tahun lalu sama sama mengungsi, karena banjir tahun lalu parah, sedada dan selama seminggu, dia jadi trauma. Tiap kali hujan malam dia tidak tidur sampai pagi. Walaupun hanya gerimispun, tetanggaku ini sangat cemas. Semoga dia juga baik2 saja.

Hujan hujan hujan

Setelah berhari hari panas yang sangat menyengat, sekarang 3 hari ini hujan terus menerus. Dari semalam hujan deras, hingga pagi ini juga tidak ada tanda tanda hujan bakal berhenti.

Seneng sih, karena udara jadi sejuk, setelah panas berhari hari. Cuma, cucian lama kering, Dzaki jadi pilek, ga bisa jalan jalan keluar maupun berenang.
Aku jadi ga bisa ke pasar untuk belanja pagi ini, padahal stok makanan di kulkas sudah mulai habis. Mau ke mall dekat rumah rasanya kok males membayangkan macetnya, cari parkirnya. Semoga agak siangan hujan berhenti sehingga bisa ke pasar, dan Dzaki bisa main di lapangan dekat rumah. Kasihan, dia bete banget di dalam rumah beberapa hari.

Acara mama Dzaki bikin puding untuk menu di hari yang panas, berganti dgn bikin cemilan untuk hari hujan, bakwan jagung yang jadi andalan hihi (bisanya cuma itu). Juga menu yang agak menghangatkan badan, plus bikin minuman jahe. Makanya bete banget nih mau ke pasar ga jadi jadi.

PANTI ASUHAN MURNI JAYA

Panti Asuhan Murni Jaya di Gang Pepaya 1 no 10, Jl. Kramat Jaya (Cilincing). Kondisinya, tidak jauh dari apa yang telah diulas di blog rekan2 yang pernah kesana sebelumnya (visit : http://jasonterra.blog.com/276031/, http://tunascendekia.org/wordpress/archives/363) . Berada di dalam gang yang cukup hanya 1 mobil, panti asuhan ini tidak kelihatan, nyaris terlewat . Kondisinya cukup memprihatinkan, dari fisik bangunannya dr luar maupun dalam, penampilan anak-anaknya yang lusuh. Pimpinanya adalah Bpk. Soetripno Wijaya. Menurut beliau saat ini ada 70 penghuni panti, dengan usia paling kecil 1 tahun, dan paling besar 16 tahun. Rata rata mereka sekolah sampai SMP. Anak anak yang besar bertanggung jawab mengasuh balita. Yayasan ini murni dikelola oleh keluarga, karena menjalankan amanah orangtua. Mungkin karena bukan yayasan besar dan terkenal, kondisinya jauh berbeda dari panti asuhan besar yg pernah aku kunjungi, dan menurutku karena ga terlalu banyak diketahui orang, donaturnya pun tidak sebanyak panti asuhan yang sudah sering terdengar. Menurut Bpk Soetripno dari PEMDA ada 20 anak dipanti yg dapat santunan Rp. 1.700,00 (atau Rp. 17.000,- kali ya, semoga aku salah dengar).

Aku sarankan juga untuk teman teman yang ingin memberikan sedekah ke anak yatim, panti asuhan ini sangat layak mendapatkan bantuan. Bisa berupa baju bekas layak pakai, kebutuhan sehari2 (sabun, detergen etc), bahan makanan, buku tulis untuk anak sekolah, pasti akan membantu meringankan kondisi mereka.


Panti Asuhan Yatim Piatu
Yayasan Murni Jaya
Jl. Kramat Jaya Gg. Pepaya I no 10 Jakarta Utara. Telepon : 4408904
BRI rekening : 03290101.6209.505 QC Soetripno Wijaya
Mandiri rekening : 121.0096004902 QC Soetripno Wijaya

During this last 4 months

Sudah sekitar 4 bulan semenjak diagnose awal sang dokter mengenai Dzaki, dan 1 bulan menjalani SI, saat ini demikian perkembangan Dzaki :
Yang menghilang :
1. Mulai banyak berkurangnya jalan jinjit
2. Muter2nya kayak gasingan ilang
3. Mata kedip2 nya udah jarangggg sekali
4. Kebiasaan buka tutup pintu yang bisa berulang dan lama sudah nyaris tidak pernah dilakukan

Ketrampilan yang nambah :
1.Corat coret crayon
2. Manggil “mama”, “papa” (yg papa masih agak jarang), bilang “dah” (sudah), dan “hau” untuk nakut nakutin kucing di jalan atau melihat gambar singa.
3. Mulai berani main perosotan, masuk tenda mainan, gorong2 mainan, dan loncat dari kasur tinggi ke kasur bawah, naik turun tangga (pegangan)
4. Mulai mau kontak mata wlo masih sedikit
5. Kadang noleh dipanggil
6. Meniru orang sholat (mulai imitating)
7. Tidur dengan jam yang “normal” sekarang tidur rata rata jam 10 atau jam 11 malam, bangun jam 8-9 pagi. Tidak gelisah saat tidur atau bangun tengah malam, maupun tidur menjelang subuh.

Monday, January 14, 2008

Duka

Malam malam membaca berbagai literature mengenai autism,penyebabnya, metode terapinya dan membaca sharing teman teman para orangtua yang lain, sering membuatku menangis (and I don’t know why)

Walaupun ketika esok, sang dokter, atau terapis mengucapkan kata kata yang menghibur, tetap saja, kalau Dzaki sudah tidur, masih saja rasanya airmata kok tidak mau berhenti (and I don’t know why)

Merasa sedih, bersalah, cemas akan ke depannya, berharap akan adanya keajaiban esok harinya. Mengamati muka bocahnya pada saat tidur lelap, kupanjatkan doa agar Tuhan selalu mengasihi dan melindungiNya, memberikan kemudahan untuk perkembangannya.

Salah satu ucapan rekan senasib di milist yang membuat hati agak ayem, bahwa Tuhan tidak tidur.

Ke Pasar

Sudah lama sekali rasanya tidak pernah belanja di Pasar Tradisonal. Selama ini lebih sering belanja ke supermarket sambil jalan ke mall . Seringkali saat masih jadi “wanita bekerja” aku belanja di supermarket sepulang bekerja, jadi nyaris ga pernah ke pasar selama beberapa tahun. Kecuali pas mudik ke Yogya, rumah ibuku di Yogya memang hanya 300 mtr dr pasar.

Ingat pesan sang therapist untuk mengurangi jalan ke mall (katanya tidak ada interaksi social disana) , dan Dzaki harus banyak jalan jalan di lingkungan sekitar, sore sore aku ajak Dzaki jalan jalan ke pasar dekat kompleks rumahku, sekitar 15 menit jalan kaki dari rumah. Untungnya memang pasar kecil dekat rumah ini buka sampai sore. Kalau pagi, sering Dzaki belum bangun (mamanya juga hehe). Pasarnya juga ga terlalu crowded, dan tidak terlalu becek. Dasarnya memang itu bukan pasar beneran, hanya satu ruas jalan aspal dengan sekumpulan pedagang dan toko2 kecil di kanan kirinya, plus lapak lapak kaki lima. Tidak ada bangunan khusus untuk pasar.

Karena Dzaki belum mau bener bener jalan kaki kalau ke pasar, aku naikin ke skuter bebeknya (scoobek), aku ajak ke pasar jalan sambil sekalian belanja sedikit keperluan dapur yang habis. Dzaki seneng sekali melihat keramaian pasar sore. Aku pun seneng karena pasarnya cukup lengkap, dan banyak jajanan (hehe).Disana mama tadi beli jahe buat bikin minuman, dan bbrp sayuran. Terus di pasar ternyata ada apotik kecil, jadi sekalian beli obat batuk buat mama dan papa Dzaki. Trus ada penjual kue terang bulan, mama beli kue terang bulan kacang coklat (hmm rasanya dah lama ga makan ini) , roti tawar dr bakery yg kebetulan lewat naik sepeda. Ada juga penjual pakaian dan daster. Susternya Dzaki langsung mampir dan nawar nawar.

Senang rasanya, dan yang paling penting Dzaki anteng di keramaian orang. Pulangnya mama bawa tentengan banyak heh heh. Lain kali kesana lagi ya nak.

Because You Are Unique

Ingat ingat masa sekolah dulu, orangtuaku selalu menekankan pentingnya belajar di sekolah, masuk ke sekolah favorite, serta penguasaan bahasa asing. SMA dan kuliah juga wajib jurusan ilmu pasti (jaman dulu A1).
Semua dilakoni aku dan kedua saudaraku dengan pemahaman bahwa itu hal yang sangat wajar dan menjadi kewajiban yang “wajar”. Padahal jujur saja, sebenarnya selain yang bahasa asing dan belajar menari, yang lainnya kulakoni setengah terpaksa.

Aku merasa ga gape banget matematika, ga tertarik dengan fisika, apalagi kimia. Celakanya, di SMAku yang termasuk unggulan, mata pelajaran itu yang menjadi focus utama. Lebih malang lagi, di SMAku ini, masuk jurusan Bilogi (A2) itu dipandang sbg “second class citizen”, apalagi masuk Sosial (A3) yang hanya ada satu kelas dan muridnya bisa dihitung pakai jari, kebanyakan untuk murid2 pindahan. Menjadi bahan pembicaraan yang seru saat kenaikan kelas 2 SMA, dimana nilai2 siswa menentukan boleh tidaknya masuk ke jurusan A1, kalau kurang dikit ke A2, kurang banyak ya ke A3. Seingatku, sangat sedikit prosentasenya yang memilih karena benar2 suka, kebanyakan karena ditentukan oleh nilai (baca :kemampuan). Stigma yang ada, kalau masuk A3 berarti ga pinter. Nasibku sendiri, dengan nilai yang ngepas, boleh memilih jurusan manapun. Namun walaupun aku sangat berminat pada bidang biologi maupun bahasa, I just “following the crowd” masuk ke A1. Entah karena “kewajiban “ dari orangtua, atau karena agar kalau A1 nanti UMPTNnya bisa lebih banyak pilihan, boleh ikut yg IPA dan IPS (kalau A3 hanya boleh IPS aja), atau yang terakhir ini …..karena gengsi.

Dengan masa masa yang menyiksa dan nilai yang tidak dapat dibanggakan, akhirnya sedikit “pencerahan” itu datang, pas aku dapat kesempatan mencicipi pendidikan di Australia slm setahun. Sebelum masuk SMA tersebut aku diwawancarai, ditanya ingin menjadi apa, ingin masuk jurusan apa di universitas nanti. Setelah menjawab aku pengen masuk kedokteran (huahaha, jawaban “wajib”), mereka memilihkan mata pelajaran matematika basic, biologi dan kimia. Saat itu aku menjawab bahwa aku harus belajar fisika dan matematika aljabar/trigonometri. Penjelasan mereka sungguh mengejutkan : “jika ingin melanjutkan kedokteran, mengapa harus belajar fisika dan matematika yang lebih teknis?”.Dengan susah payah aku menjelaskan bahawa kembali ke kelas 3 SMA di indo nanti, aku harus mengikuti pelajaran tersebut dan ujian masuk universitas juga akan mencakup mata pelajaran tersebut. Untungnya pihak sekolah memaklumi system yang berbeda ini, dan mengijinkanku mengikuti pelajaran yg “wajib” tersebut. Namun mereka menjelaskan bahwa system mereka mengarahkan pemilihan mata pelajaran berdasarkan minat dan jurusan lanjutan yg nanti akan diampil di universitas. Seorang murid yang ingin menjadi desaigner, tidak perlu susah payah ikut materi fisika-kima. Byuh, sungguh indahnya andai sekolah SMAku di indo begitu juga. Ga perlu membuang energi , waktu plus stress dgn bahan2 pelajaran yang tidak menjadi minat, atau tidak sesuai bakat. Ga perlu malu bodoh di fisika, namun gape di bahasa, atau unggul di kimia, namun nilai hapalannya hopeless. Aku jadi ingat temanku sekelas yang sangat sangat jago matematika dan kimia, namun nilai Bahasa Indonesianya lima, dan ditertawakan sekelas. Jadi ingat guru fisikaku di SMA yang menangis karena aku lolos UMPTN, karena dia kawatir dengan nilai fisikaku yang 3 (bahkan orangtuaku pun menangis sedih saat nilai fisika kimiaku 3). Atau teman SDku yang sangat jago menggambar, namun buruk di mata pelajaran matematika, sehingga selalu menjadi sasaran kemarahan sang guru.

Pengalaman dengan pendidikan tersebut sangat mirip dengan Ilustrasi bacaan bersumber dari Chuck Swindoll dalam bukunya “Standing Out” mengenai pelajaran wajib bagi para binatang : lari,memanjat,berenang, dan terbang. Supaya lebih mudah mengaturnya, setiap binatang harus melakukan kegiatan itu. Bebek sangat pintar berenang. Namun ia hanya pas pasan dalam aktifitas terbang, apalagi lari. Karena larinya jelek, maka bebek harus berhenti berenang dan tetap tinggal di sekolah untuk berlatih lari. Akibatnya, selaput kaki bebek luka,sehingga nilai renangnya tidak begitu bagus lagi.Kelinci yang mula mula berada di puncak prestasi dalam latihan lari, tetapi otot kakinya menjadi kram karena harus menaikkan nilai berenangnya. Tupai ahli memanjat, tetapi dia frustasi dalam kelas terbang karena guru menyuruhnya melayang dari tanah ke atas, bukan dari atas pohon ke bawah seperti yang mahir dilakukannya. Ia mengalami kejang kaki karena latihan terlalu keras. Karena itu tupai hanya mendapat nilai C dalam memanjat dan D dalam pelajaran lari. Burung rajawali adalah anak bermasalah dan harus berdisiplin dengan keras karena tidak mau mengikuti aturan kebanyakan. Dalam kelas memanjat,ia memang mengalahkan semua binatang untuk mencapai tujuan, tetapi ia memaksakan caranya sendiri untuk sampai kesana.

Setiap manusia, adalah unik, demikian juga anak anak. Ada yang tertarik pada science, ada yang lebih suka belajar bahasa. Ada yang suka mainan otomototif, ada yang lebih memilih game computer. Ada yang gampang bergaul, ada yang pemalu.Sesungguhnya jika para orangtua mau belajar memahami dan menerima perbedaan tersebut, akan membesarkan anak yang lebih percaya diri, dan nyaman dengan kondisinya, dan lebih penting lagi, dapat menghargai dirinya sendiri.

Aku sendiri berkeinginan membesarkan anakku tanpa menjejalinya dengan hal hal “wajib” yang pernah aku alami. Selain membuang tenaga, waktu, pikiran dan biaya (karena di masa itu aku harus les kesana kemari , habis uang banyak untuk memperbaiki nilai2 kimia dan fisikaku yang tetap saja hopeless) tanpa hasil yang optimal, akan lebih baik mengembangkan hal hal yang memang menjadi minat dan sesuai dengan keunikan bakatnya.
Aku belum menemukan bakat Dzaki, mungkin karena usianya juga belum 2 tahun. Namun dia suka corat coret dan bongkar2 mainan, dia juga suka mainan music. Siapa tahu seiring dengan bertambah usianya, minat dan bakatnya akan semakin kelihatan.