Saturday, December 29, 2007

LIBURAN DI YOGYA












Liburan dan cuti bersama Idul Adha dan natal ini kami sekeluarga ke Yogyakarta naik mobil.








BERANGKAT

Setelah sholat id hari Kamis 20 Desember berangkat dengan memilih jalur PANTURA. Ide papa untuk memilih berangkat saat Idul Adha karena yakin jalanan bakal sepi.hehe ternyata keliru.
Di mobil

Mainan kacang


Di Cirebon macet 1 jam akibat perbaikan jalanan, serta pasar tumpah menyambut Idhul Adha. Setelah lewat kemacetan di ujung tol Cirebon, jam 2 siang kami melepas lelah di resto Pesona Alam (ini karena ga ada pilihan lain), suasana lumayan, makanannya rasanya standart, yang paling enak menurutku pepes ikan masnya. Yang penting Dzaki mau makan, meluruskan kaki, dan berganti baju disana. Alhasil, berangkat jam 7 pagi , jam 7 sore baru sampai kota Pekalongan. Dzaki juga bĂȘte karena macet, dan bosan di mobil. Mama juga bĂȘte (lihat foto sebelah, aku yang bete)karena perasaan kok nggak nyampai -nyampai. Hopeless, dan khawatir Dzaki rewel, kami memilih bermalam di hotel di kota Batang, kota kecil setelah Pekalongan. Menginap di hotel Sendang Sari, yang kami lewatin keliatan OK. Hotelnya menurut kami OK banget untuk ukuran transit, kamar luas, bersih,dan nyaman, dan channel HBO untuk kartun anak (hehe), harga relative reasonable. Makanan lumayan enak, dan yang penting, ada kolam renang luas dan sangat nyaman. Dzaki seneng sekali, mau makan, nonton cartoon network dan bobok pules malamnya. Aku dan papa iseng nyari makan malam di alun alun kota, dapat minuman jahe yang enak sekali, dan ayam goreng kampung. Semua kami bungkus dan dimakan di hotel sama sama.


Pagi berikutnya setelah papa dan Dzaki puas berenang, jam 10 pagi melanjutkan perjalanan. Menjelang masuk Semarang macet banget, keluar semarang juga macet buangettt. Di Ambarawa kami istirahat di tempat “wajib” stop yaitu KOPI EVA. Ini tempat istirahat favorit sejak jaman almarhum ayahku dulu selalu mampir kesini. Suasananya yang sejuk, dan makanan yang enak. Kami pesan sup ayam, nasi rames dan sate kambing, tak lupa jahe hangat. Makanan kecil yang disediakan pun nyam nyam . Tahu, serta piyangko kacang kegemaran . Sayang Dzaki ga mau makan disini, dia asik berlarian di resto yang luas dan main mukul mukul gamelan disana.
Kami melanjutkan perjalanan ke tujuan Yogya. Sepanjang perjalanan gerimis, akhirnya sampai rumah di Yogya jam 4 sore. Benar benar perjalanan yang penjang.

Berenang di hotel

Lelap

Di KOPI EVA


Di YOGYA (makan,makan,dan makan lagi)
Selama 4 di Yogya Dzaki benar benar sibuk. Hari Sabtu pagi main di Taman Kanak Kanak Kaliurang, nenek (ibuku) juga ikut. Disana sambil bergantian mengawasi Dzaki main perosotan, kami memesan bakso, sate kelinci dan ronde jahe. Benar benar nikmat. Dzaki senang sekali berlarian, main perosotan, dan menyeberangi jembatan kayu di taman. Setelah puas , kami kembali ke selatan dan mampir ke rumah simbah putri (nenekku dari bapak) di Pakem. Di rumah dan halamanya yang luas, Dzaki puas berlarian (hehe rumah di Jakarta terasa kecil ya Dzaki). Simbah putri, seperti biasa mewajibkan kami makan kalau berkunjung kerumahnya. Nyam, ini susah ditolak (terutama oleh mama gembul). Nasi dengan sayur bobor,brongkos, lele sungai goreng dan abon bikinan simbah, benar benar nyam nyam (mama wisata nyam nyam).
Hari Minggu Dzaki berenang di sekolah Salsabilla, setelah itu kami ke daerah Turi (pakem) makan siang di resto Kangen Desa. Suasananya enak, dengan tempat makan lesehan dari bamboo yang mengelilingi danau kecil buatan. Makanannya tidak terlalu istimewa rasanya, standart, harganya juga standart. Yang penting ada wader goreng (ikan sungai kecil kecil) serta nila goreng kering (di Jakarta susah nyarinya hehe).


Menu resto Kangen Desa

Di resto Kangen Desa


Hari Senin kami menjelajah daerah Selatan. Kami mengunjungi Bude (panggilan nenek dari pihak ibu) di Patehan, perkampungan belakang Keraton Yogyakarta. Dari sana kami naik becak langganan, keliling alu alun selatan, Keraton dan Malioboro. Dzaki senang sekali naik becak untuk pertama kalinya. Diperjalanan kami mampir beli mainan gamelan kecil di samping Keraton, serta baju batik di salah satu butik batik di Pasar Ngasem. Pak becak yang selalu enggan menyebutkan ongkos kami berikan 30 ribu sesampainya kembali di rumah nenek. Di tempat nenek, aku menyempatkan makan bakso Pak No, yang warungnya nempel di bekas RS Pugeran. Malamnya kami makan sate godril di Jalan Kaliurang. Aku sempet beli batik pekalongan di toko kecil sampingnya.

Hari Selasa, saatnya belanja oleh oleh. Kami beli gudeg bu Ahmad di Jalan Kaliurang, Bakpia Podjok , terus minuman jahe di Mirota Kampus, beli kaos DAGADU di pakuningratan. Kami jyga sempet mampir di bengkelnya kaus JARAN di ring road, namun saying stok lagi kosong. Makan malam kami lewatkan di tengah hujan deras di warung makan Bu Ning, Jalan Kaliurang km 8. Ayam bakar nya enak, yang istimewa lagi ada menu mendoan bakar. Harganya? MURAH.

Hari Rabu subuh kami kembali ke Jakarta, perjalanan kali ini memilih jalur tengah, melewati Wates, Gombong, naik ke Tegal, dan dari Tegal kembali melewati PANTURA.Perjalanan lebih cepat, dan pemandangan di jalur tengah lebih asyik. Sayang ga sempat mampir di tempat makan makan yang keliatannya nyam nyam. Kami sempat berhenti di brebes, beli telor asin dan poci tanah liat.Untuk makan, kami sempat berhenti dua kali, namun tempatnya standart, karena mengejar waktu jadi ga bisa wisata nyam nyam. Jam lima sore, kami telah sampai kembali di rumah dengan selamat.
Senang rasanya, berlibur sama Dzaki, dia menikmati perjalanan jauh dengan mobil, menginap ditempat lain, serta mengunjungi keluarga tanpa rewel sama sekali.

Tapi buat mama rasanya liburannya kurang lama. Maunya ngajak Dzaki hiking ke hutan wisata, ke Borobudur dan naik turun tangga di Sabha Pramana UGM sore sore next time. Terus buat mama ada yang ketinggalan , belum kesampaian (target nyam nyam mama next time kalau ke Yogya)
Ke pasar pathuk beli jajanan pasar
Kaliurang beli pecel dan juadah
Ke muntilan makan pecel lele di Cinde Laras
Ke Bakmi KADIN minum bajigurnya
Ke Soto sawah di daerah bekalang jalan Godean.
Ke pasar Gedhe ngubek ubek barang barang aneh dan kain.
Ke Kota gedhe beli perak, terus makan sate sapi di Lapangan Karang.
Makan bakwan Malang yg mangkal di seputaran kampus UGM.

Thursday, December 13, 2007

Are We "Normal" ?

“We can not say the child is normal or not. None of us is normal. Everybody has abnormal side on his personality. Or we have an autism part in our personality” Kata-kata dari JS, mantan atasanku, ini terus menerus terngiang.
Seolah kalimat ini terbukti lagi saat aku berkonsultasi dengan therapist anakku. Dia menjelaskan bahwa kita tidak akan memakai istilah “normal” , karena setiap manusia pasti punya sisi tidak normal. Yang akan menjadi tujuan terapi adalah membantu anak untuk dapat menerima stimulus, dan meresponnya secara adaptif. Adaptif adalah berarti dapat diterima dan “wajar” (dapat diterima dan wajar pun normative bukak kah??. Misalnya jika ruangan terasa panas, anak belajar untuk merespon dengan adaptif, misalnya kipas-kipas atau membuka pintu, bukan berteriak-teriak marah. Itu lah respon adaptif yang diharapkan.

Merenungkan “normal “, sebagai orangtua pada umumnya tentu menginginkan anak “normal”. Namun apakah “normal” menjadi suatu yang essensial?. Bagaimana orang-orang “normal” yang tidak cacat fisik namun malas tidak mau bekerja, atau melakukan criminal?, Bagaimana dengan orang normal yang tidak mau bekerja sama dengan rekan kerja? Atau korupsi?Atau tidak berempati atas kesusahan yang lain? Atau punya pilihan pribadi yang mungkin menurut norma dan tradisi masyarakat dianggap “nyeleneh?”
Apakah bersekolah, bekerja, menikah kemudian menjadi ukuran “normal”? Bagaimana jika di sekolah dia menyiksatemannya? Atau di tempat kerja berlaku curang? Atau kawin cerai? (yang lebih parah jika tetap merasa bahwa tindakannya benar)
Rasanya “normal” bukan menjadi target utama. Kalau merenungi lebih jauh rasanya akupun punya sisi banyak yang “abnormal” just like everybody else.

Seakan mengamini penjelasan therapist anakku, aku sepakat dengan meniadakan istilah “normal” dan berfokus melatih anak untuk lebih adaptif. Aku bahkan lega ketika ada anak lain menangis anakku ikut menangis, entah alasannya apa dia menangis, menurutku anakku berempati kepada temannya yang sedang bersedih, dan bukan tertawa diatas penderitaan yang lain.

Tuesday, December 11, 2007

Fun Homework

Alhamdulillah setelah menunggu dari bulan September yg akhirnya hari ini mendapat kesempatan untuk observasi dan konsultasi di klinik di Pulomas. Karena ada beberapa anak yang telah menyelesaikan terapi, Dzaki bisa mendapatkan jadwal untuk terapi disana. Aku juga bersyukur kami tinggal tidak jauh dari tempat ini. Hanya sekitar 15 menit driving dr Kelapa Gading, tepatnya di daerah Pulomas.
Mulai next week, Dzaki akan menjalani Terapi Sensorik Integrasi (biasa disingkat SI) seminggu sekali di tempat ini. Selain itu banyak juga PR buat mama papanya dirumah. Mengenai Sensorik Integrasi sendiri penjelasannya agak panjang, next time aku ulas.
Home worknya sendiri berupa beberapa kegiatan secara rutin yang menurutku sungguh fun untuk dilakukan bersama keluarga, antara lain : berjalan-jalan (jalan kaki), berenang, berkuda, dan hiking.
Tujuan dari kegiatan tersebut antara lain adalah :
· Meningkatkan awareness terhadap lingkungan
· Membangun interaksi dengan orang lain
· Memberi kerja otot
· Latihan keseimbangan
· Memberikan stimulus (penglihatan, perabaan, pendengaran)
Perubahan yang langsung tampak setelah Dzaki berjalan-jalan dan berenang , jam tidurnya mulai banyak dan tidak begadang lagi, dan mulai lebih tenang, tidak rewelan.
Untungnya Dzaki sangat menyukai kegiatan jalan-jalan dan berenang. Berenangnya kesenengen sampai matanya radang, akhirnya ke dokter dan dapat obat tetes, salep dan obat untuk diminum sampai radangnya sembuh.

Sunday, December 02, 2007

Perjalanan Dzaki

Awalnya………

Awalnya aku mulai cemas ketika anakku sudah 18 bulan tidak pernah memanggilku “mama”. Kemampuan komunikasinya banyak berkurang semenjak dia bisa berjalan. Tadinya dia bisa mengatakan “mama, “papa”, “Cuss (suster), “Uss “(kucing), “gajah”, “ndak” , dan “ya”, bahkan memegang kepala dan menepuk perutnya kalau dinyanyikan kepala pundak lutut kaki… Namun ketika menginjak usia 15 bulan saat dia bisa berjalan, kemampuan ini seakan menghilang. Selain itu jika dipanggil tidak menoleh, jam tidurnya sangat sedikit (2-4 jam sehari), suka menjilati benda2 di sekelilingnya, suka muter muter, jalan jinjit dan menjedot2kan kepala ke tembok. Aku sangat khawatir karena aku ingat beberapa ciri-ciri autis yg pernah kupelajari di kuliah psikologi anak. Tadinya aku masih mencoba menghibur diri “ah mungkin karena dia baru bisa jalan jadi ngomongnya kurang” atau mungkin dia anak yg aktif” seperti komentar suamiku.

Kata Dokter

“ Speech delay dan berperilaku spt autistic” demikianlah catatan dokter ahli syaraf anak di RS Hermina Jatinegara yang aku rujuk pada tanggal 18 September 2007. “Terlalu dini untuk di diagnose autis” demikian penjelasannya padaku dan suamiku. Dan dokter menyarankan anakku untuk menjalani terapi selama tiga bulan untuk membantu mengurangi perilaku yang autistic dan untuk mengembangkan kemampuan berbicara, dan selebihnya memberikan stimulasi minimum 5 jam di rumah. Sebelumnya anakku juga menjalani test pendengaran di RSCM dan hasilnya bagus.
Rekomedasi ini tidak jauh berbeda dari ahli syaraf anak yg lain di Kelapa Gading yang datangi sebelumnya.
Tidak mudah untuk menerima penjelasan para dokter ini, walaupun mereka semua mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk didiagnosa autis, tapi rasa shock, khawatir, cemas, sedih bercampur aduk. 1001 macam pertanyaan KENAPA BISA TERJADI dan dari dokter pun tidak ada jawaban yang pasti.

Tidak Mudah

Sejak ditetapkannya rekomendasi terapi, mulailah “perburuan” untuk mendapatkan tempat terapi. Tidak mudah karena tempat terapi yang direkomedasikan penuh, dan anakku harus menunggu 4 bulan ini (sementara saran dokter adalah 3 bulan terapi dan kembali dicek). Karena terlalu lama , kuputuskan untuk mengambil speech therapy dari klinik terdekat sambil menunggu panggilan dari pusat terapi yang dituju.
Dari menunggu dari bulan Agustus yang lalu (dengan mondar mandir kesana, menelepon, menitipkan pesan kepada suster), barulah aku mendapat telpon baru-baru ini dari pusat terapi tersebut bahwa anakku akan mendapat tempat untuk sekitar akhir Desember nanti.
Hasil dari speech terapi yang baru dua minggu ini pun sudah mulai menampakkan hasil walaupun sedikit sedikit. Anakku sudah mulai memanggil “mama’, “papa”, menggambar dengan crayon, mau toss dengan tangan, serta duduk manis di kursi. Ini merupakan peningkatan yang luar biasa karena perilakunya yg mirip autism sdh jauh berkurang. Tadinya yang suka muter muter, njedot njedotin kepala ke tembok, buka tutup pintu, buku dan bisa berlangsung satu jam, sejak mengikuti speech terapi dan diberikan kesibukan permainan tertentu dirumah, perilaku-perilaku tersebut sudah jarang muncul.
Nggak mudah untuk mengurangi perilaku –perilaku tersebut. Awalnya Dzaki mengamuk ketika dihentikan, baik di rumah maupun di tempat terapinya. Dia bahkan memukul sang terapis saat marah. Di rumah tidak kalah hebatnya. Dzaki kalau marah bisa satu jam ngambek dan menjerit jerit kencang sekali sampai tetangga pada tanya. Untungnya aku punya pengasuh yang super sabar dan sangat menyayangi Dzaki. Rasanya aku pun sering hopeless untuk menghadapi ngamuknya Dzaki jika perilakunya yg berulang dihentikan. Untuk mengajari memegang crayon, biscuit dan mainan mainan peraga pun dibutuhkan waktu beberapa minggu. Setelah pertemuan terapi kedua Dzaki mau memegang crayon. Setelah pertemuan ketiga Dzaki baru mau memegang satu mainan peraga. Begitu juga dirumah, untuk memegang biscuit sampai sekarang mamanya masih mengajari.
Di rumah aku sediakan mainan peraga yang serupa dengan di tempat terapi. Selain itu karena Dzaki suka music dan binatang, aku ajak dia bermain mainan alat music , dan mengenali binatang sambil bermain dengan gambar, puzzle atau filem binatang. Aku sendiri yakin walau dia seperti tidak meperhatikan, dia tetap mendengar nama nama benda, binatang atau pembicaraan. Dzaki sendiri sangat menyukai menabuh drum kecil, memetik gitar mainan, sementara aku yang menyanyi.

Hal lain

Masih tentang rekomendasi dokter, saat meunggu giliran terapi aku bertemu seorang ibu yang anaknya juga menjalani speech therapy. Dari perbincangan, dia menyarankan untuk memeriksa kan juga ke salah satu dokter ahli di RS. Hermina Jatinegara. Sabtu tgl 24 November kemarin aku kesana, dan hal baru yg aku dapatkan bahwa menurut dokter tersebut adalah terapi bisa dilakukan belakangan karena yg terpenting adalah asupan gizi. Dzaki memang berat badannya selalu kurang sejak usia satu tahun. Menurut dokter sebaiknya gizinya diperbaiki terlebih dahulu untuk menunjang perkembangan otak dan fisik. Jika gizi kurang bagus akan mempengaruhi perkembangan otak yg berpengaruh juga pd kemampuan bicara. Terapi yg melelahkan dan gizi yg tidak baik menjadikan bobot badan akan semakin turun. Beliau juga menyusuh test urin untuk mengetahui infeksi dan test darah untuk melihat asupan zat besi ke otak. Untuk seminggu, Dzaki hrs mengkonsumsi makanan cair tambahan (baca :pediasure) satu liter perhari, dan bobotnya akan dimonitor. Untung banget Dzaki slm ini mmng sudah menkonsumsi pediasure dan dia suka rasanya.

Mogok Makan
Yg terjadi, hari pertama berhasil, hari kedua separuh, hari2 berikutnya Dzaki mogok makan. Lbh parah lg dia mogok minum susu. Duuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh Pangeran, paringono sabar.

Saat ini
Masih sambil menunggu tempat di pusat terapi, aku memutuskan tetap meneruskan speech therapy yang sedang berjalan ini tetap diteruskan, karena hasilnya positif, serta menjalani program penambahan gizi. Dzaki masih sukaaaaarrrrrrrrrrrrrrrr banget makan dan minum susu. Harapanku , semoga Tuhan memberikan kami kesabaran untuk menjalani semuanya, karena proses untuk belajar bagi Dzaki, maupun penyesuaian untuk mama papanya tidak akan sebentar.

Beberapa Percakapan Menjemukan

Terkadang dalam pembicaraan urusan anak, ada juga pertanyaan atau percakapan tolol dan konyol, dan juga menyebalkan . Berikut petikannya :

Dibawah meja
Husband : Lihat sayang anakku pandai sekali, dia berbaring di bawah meja.
Wife : duuuh sayang , tahukah kamu bahwa itu salah satu perilaku yang kurang baik dan harus dikurangi?Dia bisa satu jam di bawah meja !!

MSG
Ipar : Itu lho buburnya dikasih ajinomoto, itu bisa merangsang otak agar cerdas. Ada sodara yang dulu makanan anak-anaknya dikasih MSG trus sekarang pada pinter pinter.
Mama : duuuh baca donk buku or internet, atau tanya dokter. MSG dan perasa buatan berdampak buruk bagi kesehatan orang dewasa, apalagi anak-anak. Please dech. Klo anak sodaramu jadi pinter ya krn genetis, gizi atau proses belajarnya bukan krn MSG. Duuuh tolong ya jaman sekarang gitu lhooo, mbok baca buku or browsing.

Tetangga pengen tahu
Neighbor : Dzaki sakit apa? Kok belum bisa ngomong?apa ada kelainan?
Mama : Tidak, mind your own business (situ ngerti boso inggris ndak?) Ini sih Mama emosi (hehehe)

Menggambar bersama Elmo

Salah satu kegiatan terapi yang dilakukan Dzaki adalah menggambar. Pertama kali diajari memegang crayon dan menggambar di atas kertas oleh terapisnya, Dzaki menolak dan menangis kenceng. Tapi demgan sabar sang terapis tetap melanjutkan menggambar sambil bercerita.
Hari berikutnya aku belikan crayon, kertas dan meja kecil. Aku mulai mengajak Dzaki menggambar sambil menyanyi. Awalnya, as usual Dzaki lari-lari keliling ruangan dan seperti tidak memperhatikan. Setelah terbiasa melihatku beberapa waktu mencorat coret, akhirnya dia mau mendekat dan memegang crayon. Walaupun pun memegangnya belum sempurna, Dzaki mulai membuat coretan coretan di kertas.
Hari hari berikutnya Dzaki mulai mau melihat2 gambar dan ikutan corat coret baik di rumah maupun di tempat terapi, walaupun tidak selalu. Menggambar ini jadi salah satu cara untuk mengalihkan perhatian Dzaki dari lari-lari, muter-muter maupun njedotin kepala.
Yang lucu, saat aku setelkan VCD Elmo (yang merah temannya big bird di Sesame street) ada pelajaran menggambar, reaksi Dzaki sungguh mengejutkan, dia mengambil crayon, dan sambil melihat Elmo menggambar, diapun ikutan corat coret di atas kertas di meja kecilnya. Seneng banget rasanya melihat dia menikmati acara menggambar bersama si Elmo. Ini hasil menggambar Dzaki bersama si Elmo. Terimakasih Elmo.
Papa dan suster juga wajib menggambar. (tapi gambar Papa paling jelek heh heh)

1001 KENAPA

Kenapa Dzaki terlambat berbicara, bahkan dikhawatirkan autis?
Berbagai macam teori kemungkinan beterbangan di kepala (berikut sanggahanku pribadi):
1. Apakah karena mamanya depresi pasca melahirkan? (baby bluenya lama banget). - My comment : iya kali ya. Hiks.
2. Apa karena ga dapat ASI?. My comment : lha nek bayi panti asuhan njuk autis kabeh?
3. Apa karena lahirnya Caesar?. My comment : mosok sih? Ponakanku endak tuh.
4. Apa karena sebelum Caesar aku diinduksi sampai 10 ampul tapi tidak mempan?. My comment : tanya dokternya dulu kali ye?
5. Apa karena waktu hamil banyak makan seafood terutama kerang (keracunan merkuri?). My comment : duuuh jangan2 ini, kan seafood perairan Jakarta kayake ga bisa dijamin ga tercemar limbah.
6. Apa karena susu formula (gossip di milis AA/DHA???)- my comment : Klo AA/DHA rasanya berarti mustinya banyak korban dunk. Mana susu yang kubeli termasuk di golongan yg plng mahal. Kayaknya kok nggak banget ya kalau ini yang meimbulkan autis.Klo gitu pabriknya sudah ditutup donk di seluruh dunia, dan korbannya mustinya banyak kayak korban keracunan susu di Jepang bbrp tahun silam
7. Apa karena dari bayi sering minum obat? (jaman dulu Dzaki sering sakit dan banyak obat). – my comment : sama dengan dibawah.
8. Antibiotik saat bayi? (Dzaki pas diare hebat dan opname diberikan antibiotik). – my comment : Klo antibiotic pas bayi, saat ini kan Jakarta lagi wabah diare, biasanya klo dah diare hebat diberikan antibiotic, mosok habis itu jadi pada autis kayake nggak banget dech.

9. Kurang stimulasi (papa mamane sibuk?). My comment : kayake ini paling mungkin. Duuuh maafin orangtuamu ya Dzaki. Tapi sekarang mama dah ga sibuk sama sekali.
10. Genetis? (ortu suami sodara sepupu dekat, sepupu jauhnya ada yg rada rada autis). My comment : ketoke ini rada mengkhawatirkan .
11. Vaksin ? (katanya MMR nyebabin autis?)- my comment :
dokter yg nyuntik MMR aku kemarin datangi langsung dan aku tanyain, menurutnya enggak, krn vaksin saat ini sdh canggih dan bnyk digunakan di Negara maju. Kebetulan yg aku gunakan juga termasuk yang terbaik (tur paling larang) dan menurut dokter tidak mengandung pengawet merkuri. Asumsinya klo vaksin ini berbahaya tentunya akan dilarang di negara2 maju juga. Trus gimana dengan vaksin2 yang di puskesmas atau daerah2, klo krn vaksin tentunya banyak korbannya terutama yg dapat di daerah.
12. Gizi (BB rendah?)- my comment : bisa jadi, apalagi ahli gizinya bilang asupan gizi mempengaruhi perkembangan otak. Tapi klo gitu bayi2 dan anak anak di jalanan mustine bnyak yg mengalami hal ini donk, rasanya yg aku liat di jalanan banyak yg sehat2 pinter nyanyi dan bisa minta minta pula.
13. Kurang stimulus? - My comment : sama dengan no 12 diatas.
14. Alergi? (Dzaki ga tahan laktosa, susunya rendah laktosa dr usia 3 bln), untuk yg ini Dzaki memang belum test alergi.
15. Anak pertama dan laki laki? (Aku baca di internet katanya yg banyak mengalami anak laki2)- my comment : kenapa ya? Aku belum nemu literature yg memperkuat ini, tapi bapakku yo ora ki, sebagai sulung laki-laki, lahir di jaman perang dimana gizi buruk dan hidup di pengungsian, gedenya ga autis. Jaman dulu malah istilah ini belum dikenal pasti).
16. Apa karena aku suka lupa minum susu pas hamil? –my comment : Klo lupa minum susu, jaman biyen simbahku juga endak ada namanya Enfamil, prenagen, sustagen mama, sampe anak 10 juga ga ada yg mengalami autis.
17. Apa lagi kira kira. Rasanya saat melahirkan aku sudah memilih yang terbaik, dokter ahli yg sering menangani kelahiran di keluargaku, RS yg baik, susu formula yg baik (tur terlarang) (ASIku kering), vaksin yg baik (tur termasuk sing paling larang), dokter2 anak yg terkenal jika anakku sakit, makanan kualitas prima dari yg pokok, daging2 kualitas prima, sayur2 organik, peralatan bayi dan mainan yg aman, jare klo peralatan makan yang food grade, aku cuma mau pake merek tertentu saja, ga ngasih msg, makanan atau bumbu dengan pengawet, ga ngasih jajanan etc etc. KENAPA???????