Thursday, December 13, 2007

Are We "Normal" ?

“We can not say the child is normal or not. None of us is normal. Everybody has abnormal side on his personality. Or we have an autism part in our personality” Kata-kata dari JS, mantan atasanku, ini terus menerus terngiang.
Seolah kalimat ini terbukti lagi saat aku berkonsultasi dengan therapist anakku. Dia menjelaskan bahwa kita tidak akan memakai istilah “normal” , karena setiap manusia pasti punya sisi tidak normal. Yang akan menjadi tujuan terapi adalah membantu anak untuk dapat menerima stimulus, dan meresponnya secara adaptif. Adaptif adalah berarti dapat diterima dan “wajar” (dapat diterima dan wajar pun normative bukak kah??. Misalnya jika ruangan terasa panas, anak belajar untuk merespon dengan adaptif, misalnya kipas-kipas atau membuka pintu, bukan berteriak-teriak marah. Itu lah respon adaptif yang diharapkan.

Merenungkan “normal “, sebagai orangtua pada umumnya tentu menginginkan anak “normal”. Namun apakah “normal” menjadi suatu yang essensial?. Bagaimana orang-orang “normal” yang tidak cacat fisik namun malas tidak mau bekerja, atau melakukan criminal?, Bagaimana dengan orang normal yang tidak mau bekerja sama dengan rekan kerja? Atau korupsi?Atau tidak berempati atas kesusahan yang lain? Atau punya pilihan pribadi yang mungkin menurut norma dan tradisi masyarakat dianggap “nyeleneh?”
Apakah bersekolah, bekerja, menikah kemudian menjadi ukuran “normal”? Bagaimana jika di sekolah dia menyiksatemannya? Atau di tempat kerja berlaku curang? Atau kawin cerai? (yang lebih parah jika tetap merasa bahwa tindakannya benar)
Rasanya “normal” bukan menjadi target utama. Kalau merenungi lebih jauh rasanya akupun punya sisi banyak yang “abnormal” just like everybody else.

Seakan mengamini penjelasan therapist anakku, aku sepakat dengan meniadakan istilah “normal” dan berfokus melatih anak untuk lebih adaptif. Aku bahkan lega ketika ada anak lain menangis anakku ikut menangis, entah alasannya apa dia menangis, menurutku anakku berempati kepada temannya yang sedang bersedih, dan bukan tertawa diatas penderitaan yang lain.

2 comments:

Unknown said...

Hai Nana,
kita memang terbiasa dengan dikotomi: baik-buruk, diberkati-dikutuk, cinta-benci, hitam-putih, normal-abnormal. Dan sepertinya menjadi hal yang alami bagi kita memiliki kecenderungan itu.
Tapi seringkali memang di dunia ini nggak seperti itu. Terkadang yang perlu kita lakukan hanya menerima atau mengiyakan saja.
Ada kisah dua orang sahabat berjalan bersama, lalu mereka melihat seseorang berjari enam di tangan kanannya. Yng satu berkata,"Wah tangannya nggak normal". Temannya bilang,"Apa yang salah? dia dilahirkan dengan enam jari." Kemudian temannya berkata,"kalo begitu saya juga ingin punya enam jari." Temannya berkata,"Nah kalo itu nggak normal".

milanapandanwangi said...

Hehehe Iya yah Agung.
Thanks banget atas inspirasi darimu