Wednesday, November 19, 2008

Parents jangan minder

Saat kumpul keluarga, cousinnya suami yang datang dari luar Jawa mengatakan, minder dengan anak - anak sepupunya, karena merasa anaknya hitam (kulitnya) dan tidak cakep. Dalam hati saya, mendengar pernyataannya adalah = "SUNGGUH BODOH". Maafkan kata kata saya (hehe) tapi saya tidak berhasil menemukan istilah yang lebih pas di glossary untuk parent yang berpikir atau merasa minder akan kondisi anak.

Tidak jarang saya juga mengalami situasi yang sama, misalnya pandangan mata, atau omongan yg mengecilkan hati tentang kondisi anak. Namun saya bersyukur kata teman saya Fanny, saya adalah orang yang paling cuek dan tidak peduli omongan orang.

Sebenarnya bukan karena over pede (ada yg bilang saya demikian), namun saya lebih percaya hal hal dibawah ini :

1. Kondisi fisik, atau apapun anak, mau hitam, keriting, atau apa kek, itu sudah kondisi yang dianugerahi Tuhan. Maka bukan alasan untuk menjadikan minder atau malu. Justru yang berkomentar negatif yang harusnya malu, karena dia mencemooh hasil karya Sang Pencipta.

2. Jika orangtua menjadi malu/minder karena anaknya ga secakep yg lain, item, kurang pandai (dibanding yang lain), bagaimana oragngtua akan membantu si anak menjadi percaya diri?Belum belum malah orangtuanya sudah minder duluan , dan akan berpengaruh ke psikologis si anak.Saya sarankan baca Seven Habits nya Stephen Covey. Sebelum merubah lingkungan (membantu anak), kita (parents) yang harus mengubah mindset terlebih dahulu.

3. Kepercayaan diri adalah modal dasar manusia untuk mengembangkan diri dan bersosialisasi. Kalau parentnya minder, anaknya jadi lebih minder, bisa jadi malah tumbuh jadi orang yang tidak percaya diri.

Pada kesempatan2 yang mengecilkan hati, saya kadang memberi jawaban-jawaban yang mungkin kurang berkenan di forum kumpul keluarga (karena saya juga jengkel).
Contoh : "Kok anakmu belum bisa apa2 siy?", atau "kok anak si A seumuran bisa gini Dzaki ga bisa?", atau ada juga yg bilang "Bisu ya?"

Maka jawaban saya antara lain (dgn melihat siapa yg memberi komentar yang negatif ) :

"Iyah daripada normal tapi nanti dewasanya narkoba kayak sodaramu?"
"Iyah daripada normal sekolah tinggi tapi nganggur, males malesan dirumah kayak si A sodaramu?"
"Iyah tapi Dzaki ga suka mukul teman kayak anakmu" (Kebetulan anaknya suka mukul teman)
"Tuh lihat anakmu lagi ngapain" (pas anaknya lagi mukul adiknya di seberang ruangan)

Hehehehe menyebalkan bukan?Biasanya suami akan melotot dari sudut ruangan atau mencubit dari bawah . Jawaban saya yg paling bagus saat jengkel adalah "Melek internet ga? Googling, ketik sensory integration disorder, atau autism. Cari sendiri jawabannya"

Lama lama barangkali mereka capek, atau jengkel (karena jawaban saya adalah hal nyata bagi mereka), sehingga sekarang pertanyaan jumlah dan kualitasnya yg negatif berkurang. Atau malah jadi takut ngomong sama saya kali yak (huahaha narcis kumat).

Sebenarnya bukan sekali dua saya menjelaskan kondisi Dzaki. Jika ketemu dengan saudara saudara yang berwawasan luas, peduli, maka kami bisa berdiskusi. Namun jika bertemu dengan yang males mikir, ga pernah buka koran atau internet, kurang peduli, atau pahamnya tradisional banget, maka itu menjadi hal yang melelahkan dan berulang2.
Maka jawaban canggihnya adalah "Baca donk koran, buka internet, hari giniiiiiii". Maka si penanya biasanya akan malu sendiri (karena keliatan dia ga melek informasi dan atau gaptek).

Kebayang kan, kepusingan parents yang sehari hari sudah puyeng dan lelah fisik berusaha untuk kebaikan anak (dengan kebutuhan special) , jika masih dihujani pernyataan dan pertanyaan negatif dari lingkungan. Jika diantara keluargamu ada yang mengalami demikian, supportlah secara mental, hiburlah, bantulah cari informasi, dan jangan dihujani pertanyaan atau pernyataan yang mengecilkan hati.

Parents, be confident untuk membantu anak kita, over pede juga ga dosa kok.

4 comments:

evy kumara said...

setuju banget na,apapun yang terjadi dengan anak kita syukurilah karena dia tidak bisa memilih untuk dilahirkan menjadi seperti apa dan di dalam lingkungan yg bagaimana...hmmm seandainya mrk bisa memilih,pasti semua anak minta dilahirkan sempurna dan dalam lingkungan yang ideal......

milanapandanwangi said...

Betul, dan jika anak boleh memilih, barangkali kebalikannya, mereka ga mau punya Parent yang ga pede akan kondisinya."Mama, Papa, Pede donk sama aku, bangga donk sama aku" Kali gitu yah.

Ade.M.Sony said...

Emang kesel ketemu orang yang ga ngerti-ngerti....Suka gregetan sama orang2 yang anggap kalo kite tuh over worried,alias dikit2 terapi,kaya kebanyakan duit ajah..."ntar juga ngomong,sodaraku juga kayak gini,akhirnya ngomong juga..." Cape deh,...Iya,kalo dengan dibiarkan dia membaik,kalo malah tambah 'hanyut'?? Bukan cuma nyesel, tanggung jawab di hadapan ALLAH nya, bisa tegakin kepala ga?Anak kok di sia-sia in! Lho, jadi curhat mba',hehehe...

milanapandanwangi said...

Daripada pusing mikirin omongan orang yang nggak ngenakin, mendingan fokus aja ke tujuan semula, ya kan Mama Daffa?Maju terussssss